PKBM Tak Kalah dengan Pendidikan Formal

Tenggarong, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah suatu wadah berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk menggerakkan pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan budaya.

Tujuan PKBM, memperluas kesempatan warga masyarakat, khususnya yang tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan bekerja mencari nafkah.

“Dalam upaya menyamakan persepsi dan menyelaraskan penyelenggaraan PKBM, dengan ide dasar PKBM sebagai pusat kegiatan pendidikan luar sekolah, PKBM yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kepentingan dan kemampuan masyarakat, maka perlu dikembangkan alat ukur kelayakan penyelenggaraan PKBM” ucap Kepala PKBM PKM , Syaiful Anwar , ketika menyampaikan sambutan pada acara pembukaan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan , Senin (29/8) kemarin.

Ia Menambahkan, banyak yang beranggapan PKBM ditujukan untuk masyarakat miskin yang putus sekolah. Namun dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menetapkan jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

“Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat” imbuhnya.

Selain itu ia berharap, agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada PKBM, karena peranan PKBM sangat dibutuhkan untuk menciptakan SDM yang tidak kalah mutunya dengan mutu sekolah formal, dengan memakai kurikulum yang sama

Berantas Buta Aksara, Kukar Berdayakan PKBM

Tenggarong – Tingginya jumlah warga penderita buta aksara membuat Pemerintah Kutai Kartanegara  terus berupaya mencari solusi memerangi buta aksara. Salahsatu caranya adalah dengan memberdayakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Demikian disampaikan Kadis.Pendidikan Melalui Kabid.PNFI,paud dan kejuruan H.Bahransyah,SE.M.Si pada acara pembukaan belajar perdana warga belajar Keaksaraan dan Kesetaraan PKBM Putri Karang Melenu ( PKM ) Kecamatan Loa Kulu Senin (30/8).

Menurut data yang diperoleh Dinas  Pendidikan ( Kasubag.PNFI ) Kutai Karetanegara  H.Bahransyah,SE.M.Si  menyebutkan, pada tahun 2006  jumlah penduduk buta aksara sebanyak 22,272 jiwa, diantaranya merupakan warga yang belum mampu melakukan baca tulis “melek aksara” . tetapi Jumlah tersebut  menurun jika dibanding tahun 2010 yang mencapai 14.416  orang. Namun, hal ini tidak lantas membuat Pemkab Kukar berpuas diri.

Lebih lanjut, Bahransyah  mengatakan, melaui.Beberapa model inovasi untuk mempercepat pemberantasan buta aksara antara lain melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang mensyaratkan calon pesertanya harus bisa baca tulis, melalui pembelajaran mikro (seperti iqra dalam bahasa latin), dalam bentuk permainan karakter dan angka, reach the unreach, dan menjangkau masyarakat adat. “Model inovasi ini akan menurunkan angka buta huruf, ” katanya.
Sayangnya, lanjut  Bahransyah , hingga saat ini, pihaknya masih terkendala dengan minimnya Lembaga Pusat Kegiatan belajar Masyarakat ( PKBM ). Bahransyah  merincikan , saat ini di Kutai Kartanegara baru terdapat 9 PKBM , yang tersebar PKBM Putri Karang Melenu yang ada di wilayah kecamatan Loa Kulu. di usia  yang   relatif muda namun kegiatannya cukup banyak sehingga PKBM PKM ini dapat dijadikan sebagai barometer PKBM yang ada di Kutai kartanegara.,” jelas  Bahransyah.

Meski begitu, Bahransyah  menegaskan, pihaknya tidak akan menyerah begitu saja dalam memerangi buta aksara di Kutai . ” kita juga akan melakukan pendekatan kepada warga yang masih tergolong buta aksara. Dengan begitu diharapkan mampu menekan jumlah penderita buta aksara di kutai Kartanegara,” tandasnya.

Diknas terus Kukar berupaya mempertegas keakuratan data penduduk buta aksara melalui kerja sama dengan semua pihak termasuk para Rukun tetangga ,mengingat Rt mengetahui persais kondisi warganya.

“Kami ingin memetakan lokasi sasaran program Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PBA) sesuai dengan Inpres No. 5 Tahun 2006. Keakuratan data berpengaruh pada pemetaan lokasi sehingga penyelenggaraan dan pelaksanaan PBA di lapangan, yang diharapkan dapat semakin fokus dan optimal, ” ujarnya.

Pembukaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan yang berlangsung penuh keakrapan dan kekluargaan itu dihadiri pula Kapala Cabang Dinas Pendidikan yang diwakili Koordinator Pengawas ,Koramil Loakulu Kapten Infantre Eko Edy.S, Kepala Desa Loakulu kota ,Tokoh masyarakat, para tutor dan undangan lainnya.

Acara diakhiri dengan penyerahan  papan nama,buku dan seperangkat alat tulis  kelompok belajar oleh Kabid  H.bahransyah kepada penyelenggara dan tutor sebagai tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar ,selain itu deriktur PKBM PKM Syaful Anwar menyerahkan bantuan sejumlah uang kepada pengurus  Musholla Al-Ikhlas  dan bingkisan lebaran untuk para tutor “ uang ini kami peroleh dari sumbangan para  tutor,sebagian honor mereka  disisihkan untuk  Musholla Al-Ikhlas itung –itung ini bulan Ramadhan “

Tata Rias Pengantin Paser “Baju Poko Tengkolos Lengkor Walu”

foto : Deviana Yupita (Ditampilkan pada Jambore 1000 PTK-PNF 2010, Surabaya)

Sejak zaman dahulu, Tata Rias Pengantin merupakan simbol kebanggaan seseorang yang akan memulai kehidupan berumah tangga. Pernikahan adalah bagian yang normal dalam suatu kehidupan dan merupakan pertautan dalam dua keluarga besar. Pernikahan selalu identik dengan Tata Rias Pengantin dan serangkaian upacara adatnya. Salah satu langkah positif yang ditempuh adalah membina dan memelihara kelestarian warisan budaya yang ada di Kabupaten Paser.

Pada kesempatan ini penulis ingin menguraikan tentang budaya Tata Rias Pengantin (TRP) Paser Baju Tengkolos Lengkor Walu yang merupakan aset seni budaya masyarakat Kabupaten Paser.

Untuk menampilkan hasil yang sempurna maka  Tata Rias Pengantin (TRP) Baju Poko Tengkolos Lengkor Walu menggunakan asesoris (perhiasan) yang tidak meninggalkan nilai-nilai warisan budaya masyarakat Kabupaten Paser.

Oleh karena itu para masyarakat yang ingin menjadi perias pengantin perlu mendalami teknik pemakaian asesoris pengantin itu sendiri.

Berdasarkan hal tersebut maka karya ini akan membahas secara khusus tentang cara memakai asesoris Tata Rias Pengantin (TRP) Paser “Baju Poko Tengkolos Lengkor Walu”.

Untuk  Lengkapnya Cara Penggunaan dan Asesories yang digunakan Download Disini

Mendiknas Prioritaskan PAUD Pada 2011

Foto: bappeda.jatimprov.go.id

Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh memprioritaskan pendidikan anak usia dini pada 2011 bersama dengan pendidikan dasar, vokasi/politeknik, dan percepatan doktor untuk para dosen.

“Pendidikan dasar menjadi prioritas utama pada 2011, termasuk urusan perbukuan dan lembar kerja siswa (LKS),” katanya usai menjadi pembina upacara pada peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Ke-65 Republik Indonesia di halaman Kantor Kemdiknas RI di Jakarta, Selasa.

Hadir pada upacara itu Wamendiknas RI Fasli Jalal, pejabat Kemdiknas, dan penerima anugerah Satya Lancana Karya Satya.

Pendidikan vokasi, katanya, yaitu sekolah menengah kejuruan (SMK) dan politeknik diprioritaskan untuk menjawab persoalan ketenagakerjaan. “Melalui pendidikan vokasi ini disiapkan tenaga-tenaga kerja yang punya keterampilan dan keahlian,” katanya.

Kemudian percepatan kualifikasi doktor juga di perguruan tinggi menjadi prioritas.

Saat ini, kata Mendiknas, terdapat 23 ribu dosen yang berlatarbelakang pendidikan doktor (S3) dari 270 ribu dosen atau hanya sekitar delapan persennya.

Ia menargetkan pada 2014/2015 angka itu menjadi menjadi 20 persen atau 30 ribu dosen berpendidikan S3, atau ada tambahan paling sedikit 5.000 doktor baru per tahun.

“Prioritas berikutnya adalah PAUD. Saat ini angka partisipasi kasar (APK) PAUD secara nasional mencapai 54 persen, dan di daerah tertentu ada yang mencapai 70 persen. Tahun depan PAUD kami genjot,” ujarnya.

Sumber : www.antaranews.com

Bahaya Balita Diajarkan Calistung, Saat SD Potensi Terkena ‘Mental Hectic’

foto: VirusCerdas.Com

JAKARTA–Anak usia di bawah lima tahun (balita) sebaiknya tak buru-buru diajarkan baca tulis dan hitung (calistung). Jika dipaksa calistung si anak akan terkena ‘Mental Hectic’.

”Penyakit itu akan merasuki anak tersebut di saat kelas 2 atau 3 Sekolah Dasar (SD). Oleh karena itu jangan bangga bagi Anda atau siapa saja yang memiliki anak usia dua atau tiga tahun sudah bisa membaca dan menulis,” ujar Sudjarwo, Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ditjen PNFI Kemendiknas, Sabtu (17/7).

Oleh karena itu, kata Sudjarwo, pengajaran PAUD akan dikembalikan pada ‘qitah’-nya. Kemendiknas mendorong orang tua untuk menjadi konsumen cerdas, terutama dengan memilih sekolah PAUD yang tidak mengajarkan calistung.

Saat ini banyak orang tua yang terjebak saat memilih sekolah PAUD. Orangtua menganggap sekolah PAUD yang biayanya mahal, fasilitas mewah, dan mengajarkan calistung merupakan sekolah yang baik. ”Padahal tidak begitu, apalagi orang tua memilih sekolah PAUD yang bisa mengajarkan calistung, itu keliru,”  jelas Sudjarwo.

Sekolah PAUD yang bagus justru sekolah yang memberikan kesempatan pada anak untuk bermain, tanpa membebaninya dengan beban akademik, termasuk calistung.  Dampak memberikan pelajaran calistung pada anak PAUD, menurut Sudjarwo, akan berbahaya bagi anak itu sendiri. ”Bahaya untuk konsumen pendidikan, yaitu anak, terutama dari sisi mental,” cetusnya.

Memberikan pelajaran calistung pada anak, menurut Sudjarwo, dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mental. ”Jadi tidak main-main itu, ada namanya ‘mental hectic’, anak bisa menjadi pemberontak,” tegas dia.

Kesalahan ini sering dilakukan oleh orang tua, yang seringkali bangga jika lulus TK anaknya sudah dapat calistung. Untuk itu, Sudjarwo mengatakan, Kemendiknas sedang gencar mensosialisasikan agar PAUD kembali pada fitrahnya. Sedangkan produk payung hukumnya sudah ada, yakni SK Mendiknas No 58/2009. ”SK nya sudah keluar, jadi jangan sembarangan memberikan pelajaran calistung,” jelasnya.

Sosialisasi tersebut, kata Sudjarwo, telah dilakukan melalui berbagai pertemuan di tingkat kabupaten dan provinsi.  Maka Sudjarwo sangat berharap pemerintah daerah dapat menindaklanjuti komitmen pusat untuk mengembalikan PAUD pada jalurnya. ”Paling penting pemda dapat melakukan tindak lanjutnya,” jawab dia.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Srie Agustina, Koordinator Komisi Edukasi dan Komunikasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), menyatakan, memilih mensosialisasikan produk pendidikan  merupakan bagian dari fungsi dan tugas BPKN untuk melakukan perlindungan terhadap konsumen.

Dalam hal ini, kata Srie, BPKN memprioritaskan sosialisasi pada anak usia dini. Sebab berdasarkan Konvensi Hak Anak, setiap anak memiliki empat hak dasar.  Salah satunya adalah hak untuk mendapatkan perlindungan dalam kerugian dari barang dan produk, termasuk produk pendidikan. ”Untuk itu sejak dini anak dilibatkan, karena di usia itulah pembentukan karakter terjadi,” papar Srie.

Namun menurut Srie, mengedukasi tentang sebuah produk harus menggunakan metode khusus.  Tidak dapat berwujud arahan dan larangan, namun dengan cara yang menyenangkan, salah satunya dengan festival mewarnai sebagai salah satu teknik untuk memberikan edukasi. ”Dengan mewarnai, mereka bisa terlibat dan merasa lebur di dalamnya, selain itu dalam gambar yang diwarnai tersebut disisipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan,” pungkasnya.

Sumber : VirusCerdas.Com

Lembaga Kursus Gelar Workshop Pembelajaran Berbasis ITC Untuk Guru

foto : Gading Permana

“Bukan jamanya lagi guru mengajar hanya dengan bermodalkan kapur dan papan tulis” demikian di ungkapkan Kepala Sekolah SMA Negeri 2 Sebulu, Suwarnodalam sambutanya ketika membuka Workshop Membuat Media Pembelajaran Berbasis ITC  bagi guru di SMA Negeri 2 Sebulu, Sabtu, (06/10). Menurut  Suwarno, kegiatan workshop ini merupakan rangkaian kegiatan yang diselenggarakan sekolah dalam mempersiapkan tenaga-tenaga guru  yang akan mengajar di kelas ekskusif SMA Negeri 2 Sebulu.”Tahun ini kami telah membuka kelas khusus yang mana memiliki kelebihan di banding kelas biasa. Dimana kami menggunakan metode belajar interaktif dan berbasis IT, jadi untuk mengawalinya kami perlu melatih guru-gurunya dahulu” ujar Suwarno.

Workshop Membuat media pembelajaran berbasis ITC ini menggandeng tenaga professional yang ada di wilayah terdekat, yaitu LKP. Darul Ilmi. Dalam hal ini LKP Darul Ilmi sebagai tenaga teknis yang akan membimbing guru-guru menguasai beberapa tehnologi media pembelajaran berbasis ITC. Pada  saat workshop ini guru-guru akan menerima pelatihan berupa penguasaan program presentasi seperti Microsoft Power Point,  Video editing  serta program untuk membuat soal, quiz serta pertanyaan seperti Hot Potatos.  Sehingga di harapkan untuk program awal guru-guru akan mampu menguasai media pembelajaran secara interaktif dengan media computer.

Menurut rencana setelah program ini, SMA Negeri 2 Sebulu akan membangun Server Intranet di sekolahmereka, hal ini dilakukan untuk lebih memberikan wawasan kepada pendidik dan peserta didik akan arti pentingnya dunia pendidikan berbasis teknologi  informasi dan computer. “ Kedepan kami akan membangun media pembelajaran berbasis web, seperti Moodle, sehingga guru dan murid akan semakin lebih interaktif dan melek teknologi” tambah Suwarno kepala LuarSekolahBisa.Com

Sementara itu Suwarno juga sangat berterima kasih kepada lembaga lembaga kursus yang selama ini banyak membantu terselenggaranya kegiatan ini, karena menurut Suwarno, lembaga kursus merupakan mitra yang tepat untuk dirangkul karena lembaga kursus tentunya lebih terdepan dalam penguasaan program-program komputer terkini.  “Kami sangat terbantu dengan adanya lembaga kursus yang menyediakan tenaga-tenaga professional di bidang aplikasi dan program computer, sehingga akan lebih cepat dalam melakukan alih teknologi bila langsung belajar pada ahlinya daripada belajar sendiri.

15 PAUD & 15 Lembaga Kursus Di Bontang Lakukan Akreditasi

Foto: Nurda

Lembaga Pendidikan Non Formal (PNF) di Bontang tahun ini mendapatkan kesempatan untuk diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Non Formal (BAN-PNF). Tahap awal, di tahun ini Kepala Bidang PNF-I Dinas Pendidikan Kota Bontang memberikan Workshop Akreditasi Lembaga PNF kepada 30 lembaga PNF yang ada di Bontang untuk memberikan wawasan mengenai apa & bagaimana proses pengajuan akreditasi sebuah lembaga dengan pembagian 15 lembaga PAUD & 15 lembaga Kursus. (more…)

20 Penilik PNFI Kukar Dapat Motor Dinas

Kabid PNFI H.Bahransyah,SE.M.Si 2 dari kiriTenggarong - Pemerintah Kabupaten KutaiKartanegara terus memperhatikan kesejahteraan pegawainya melalui pemberian fasilitas kendaraan roda dua untuk Tenaga Pendidik dan Kependidikan – Pendidikan Non formal dan Informal (PTK-PNFI )   Para  Penilik PNFI  ,Tenaga Lapangan Dikmas (TLD) ,Pamong Belajar  ,Kepala Unit Pelaksana teknik Daerah –Sanggar Kegiatan Belajar ( UPTD –SKB ) dan tenaga lainnya    di Lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Seluruh Penilik  yang berjumlah 20 orang ,TLD sebanyak 6 orang Papong Belajar  12 orang dan kepala UPTD-SKB sebanyak 3 orang , Melalui kabag.PNFI H.Bahransyah,SE.M.Si menyampaikan motor dinas yang akan dibagikan tinggal menunggu Sk dan Administrasi lainya dari Kepala Dinas Pendidiakn. “ Insya Allah Agustus bulan ini para tenaga PTK-PNFI akan mendapatkan kendaraan dinas dengan merk Honda”tegas Bahransyah.”Hal ini merupakan perwujudan tuntutan kerja yang semakin tinggi di bidang pendidikan Nonformal yang perlu alat mobilitas yang dapat meningkatkan kinerja” tambah Bahran.

Harapan Kepala Dinas Pendidikan Kukar  melalui Bahransyah,SE.M.Si, dengan diterimanya sepeda motor untuk operasional para tenaga PTK-PNFI , penilik dan tenaga lainnya maka kinerjanya harus ditingkatkan. Terutama para penilik ,TLD dan pamong Belajar di  delapan belas kecamatan tertentu yang lokasi yang ditempuh  sangat jauh dan tidak ada transportasi, dengan dimilikinya kendaraan tersebut tentu sudah bukan kendala lagi.

Tingkatkan Mutu PTK-PNFI 40 Orang Ikuti Pelatihan Tutor

Tenggarong – Guna meningkatkan mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan –Pendidikan Non Formal dan Informal ( PTK-PNFI ) Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara Melalui UPTD-SKB Muara Jawa menggelar  Pelatihan Tutor Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD ) dan Tutor Keaksaraan Fungsional (KF) Berlangsung selama 3 hari ( 8-10/2010 ) di Gedung PKK Kantor Camat Muara Jawa.

Pelatihan diikuti 40 orang peserta dari  perwakilan tiap kecamatan di wilayah kerja UPTD-SKB Muara Jawa meliputi Kecamatan Muara Jawa Samboja-Sangasanga-Marang Kayu dan Kecamatan Muara Badak secara resmi dibuka oleh Camat Muara Jawa yang diwakili Sekcam H.Nasrun Waroma.S.Sos.MM.

Pada acara pembukaan Sekcam Muara Jawa mengatakan  ,bahwa kegiaan pelatihan dilakukan Pemerintah melalui Dinas Pendidikan Kukar adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa utamanya sasaran utama adalah pendidikan paud dan Keaksaraan Fungsional.” Sepuluh tahun terakhir Minat orang tua untuk menyekolahkan putra dan putrinya cukup tinggi ,tidak seperti dulu yang namanya Kelompok bermain tidak ada “ dalam rangka menyikapi kenginan masyarakat itulah maka para tutor harus mampu menghadapi tantangan kedepan.

Skcam menyampaikan pesan bahwa pelatihan yang diselenggarakan menambah hal baru yang nantinya dapat diterapkan di tugamasing-masing dan pelatihan ini berkelanjutan ujarnya.

Sementara itu Kepala UPTD-SKB Muara Jawa. Drs.Ahmad Yani Rahim ,MM.dalam sambutannya menyampaikan,terselenggranya pelaksanaan pelatihan tutor Paud dan Kf yang dilakukan di UPTD-SKB Muara Jawa menggunakan dana Block gren dari pusat tahun anggaran 2010 melalui PKB Propinsi Kalimantan Timur.

Lebih lanjut Ahmad Yani Rahim mengatakan, tujuan dari pelatihan ini adalah para tutor diharapkan mampu untuk merencanakan secara efektif kegiatan Kegiatan Belajar Mengajar , menggunakan berbagai strategi pengajaran dan Metode ,menciptakan lingkungan warga belajaar yang menyenangkan.

Tim Instruktur dalam pelatihan ini terdiri dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara Kabag.PNFI PAUD dan kejuruan H.Bahransyah,SE.MM. dan dari PKB Provinsi Kalimantan Timur Sunarni,S.Pd.MM dan  Purwati ,S.Pd.MM. Materi-materi yang disampaikan pada pelatihan ini meliputi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara yang berkaitan dengan Pendidikan Non Formal ,Kontektual Dalam pembuatan bahan ajar  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran( RPP),pembuatan alat peraga dan pemanfaatan Lingkungan sebagaisumber belajar, Simulasi Pembelajaran serta Rencana tindaklanjut dari pelatihan ini.

Semangat Ibu-Ibu Muara Sanga-Sanga Belajar Membaca

TENGGARONG-Sebuah nasehat mengatakan bahwa tidak ada batasan umur belajar. Apalagi, halangan belajar bukan datang dari dalam diri, melainkan disebabkan oleh faktor  lingkungan, yaitu ketidak adilan karena minimnya akses pendidikan yang layak bagi masyarakat miskin.

Hal ini terjadi pada kaum ibu di kawasan Kelurahan Muara Sangasanga. Cukup banyak ibu yang berusia lebih 35 tahun atau lebih yang masih mengalami aksara, namun umur yang tidak lagi muda ternyata tidak mengendurkan semangat mereka untuk belajar baca tulis dan berhitung.

Antusiasme para ibu yang kebanyakan berprofesi sebagai ibu rumah tangga ini untuk bisa membaca, menulis, berhitung tersebut jelas terlihat pada saat dilakukan Pembukaan  kegiatan pembelajaran perdana keaksaraan fungsional (KF) oleh Kabid PNFI Disdik Kukar H.Bahransyah,SE.M.Si , Selasa   (02/8) di kediaman warga belajar KF  ibu Sabariah  Jl.Budiyono RW 01 Kelurahan Sangasanga Muara . Siang itu, lebih dari empat puluh orang ibu beramai-ramai datang di kegiatan acara pembukaan perdana  untuk berbagi cerita dengan warga belajar yang telah mengikuti kegiatan KF, tujuan kegiatan KF, kaitan kegiatan KF untuk mengupayakan akses terhadap pemenuhan hak-hak dasar warga serta berkenalan dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) .KH.Dewantara Sangasanga  yang akan memfasilitasi para warga buta aksara untuk belajar baca-tulis-hitung dan melatih untuk berani bicara di depan umum.

Hadir pada kesempatan pembukaan belajar perdana Kelompok belajar “Monumen Merah putih” Lurah Sangasanga Muara Nanang Jumeri,Kepala Unit Pelaksana Tehnis Daerah (UPTD) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Muara Jawa  Ahmad Yani Rahim, Anggota Komando Militer 0906-04 Sangasanga Kepala PKBM KH.Dewantara Sangasanga Penilik PNFI dan undangan lainnya.

Lebih lanjut Bahransyah mengatakan Penyelenggaraan pendidikan luar sekolah yang akan terus dikembangkan adalah program keaksaraan fungsional (functional literacy). Program ini selain memenuhi amanat undang-undang dan peraturan pemerintah, juga merupakan komitmen Pemerintah Kutai Kartanegara  meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat

Program keaksaraan fungsional adalah implementasi sebuah konsep pembelajaran berbasis masyarakat (community based learning), sebagaimana yang dikatakan Fasli Jalal (2001) bahwa pendidikan sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dalam bentuk community based learning, yaitu pembelajaran yang dirancang, diatur, dilaksanakan, dinilai dan dikembangkan oleh masyarakat yang mengarah pada usaha untuk menjawab tantangan yang ada di masyarakat

Program keaksaraan fungsional dapat dijumpai pada pendidikan luar sekolah. Kehandalan PLS yang sekarang dengan istilah PNFI ( Pendidikan Non Formal dan Informal ) mampu memberikan akses pada masyarakat untuk berperan serta sebagai pelaksana, pengembang, pelembaga dan pemanfaatan program PNFI untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang terus berubah setiap saat. Metode belajar PNFI  yang fleksibel dalam hal waktu, tempat, cara dan program belajar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam dan cepat menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat.

Warga masyarakat yang kurang dalam hal pendidikan perlu ditangani sehingga terhindar dari buta huruf, maka dari itu pemerintah mencanangkan Program Pemberantasan Buta Huruf yang memberikan dampak positif bagi masyarakat yang belum mengenyam pendidikan sama sekali.

Sementra itu Lurah Sangasanga Muara Nanang Jumeri berharap kepada peserta warga belajar hendaknya dapat mengikuti proses kegiatan belajar mengajar dengan betul dan tekun mengingat program Keaksaraan fungsional akan dilaksanakan selama enam bulan dan dengan menggunakan dana pemerintah ,apabila tidak sunguh-sungguh maka yang rugi bukan hanya warga belajar saja tetapi juga pemerintah.

Daftar Peringkat Peserta Jambore PTK-PNF Kalimantan Timur di Tk. Nasional

Peserta Jambore 2010 Kaltim

Sebagai agenda tahunan Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan – Pendidikan NonFormal (PTK-PNF) Kementrian Pendidikan Nasional Republik Indonesia menyelenggarakan Jambore 1000 PTK-PNF yang di ikuti seribu peserta dari 33 provensi yang ada di Indonesia. Seribu peserta tersebut merupakan tenaga pendidik dan kependidikan yang mengikuti tiga macam cabang lomba yaitu Lomba Karya Nyata (LKN), Lomba Karya Tulis (LKT) dan Porseni.

Kali ini Kontingen dari Kalimantan Timur yang juga turut serta mengikuti ke 3 Jenis Lomba yang terdiri dari 14 Cabang lomba tersebut, dan dibawah ini daftar peringkat – peringkat yang diperoleh oleh Kontingen Jambore 1000 PTK-PNF dari Kalimantan Timur dalam Perlombaan-perlombaan yang diselenggarakan, dan sebagai catatan dibanding tahun-tahun sebelumnya perolehan peringkat yang ada mengalami peningkatan yang cukup baik, kendati belum ada yang masuk ke 3 besar.

Nama Cabang Lomba Kab/Kota Peringkat Nilai
Ngadirin Pengelola PKBM Samarinda 4 79,76
Haravanty Senam Aoerobic Kutai Timur 5 79,01
Catur Dewi Kusuma Tutor PAUD Bontang 6 74,33
Hj. Siti Juariyah Pengelola TBM Samarinda 6 78,88
Zairelawati Instruktur Musik Samarinda 7 69,92
Rusmini Hakim Tutor KF Nunukan 7 77,28
Muhammad Sipi Penilik Balikpapan 8 71,60
Evi Melilasari Instruktur B.Inggris Bontang 8 78,79
Suyono Pengelola IT Kutai Kartanegara 10 74,11
Nurdaniati Pengelola PAUD Bontang 11 56,78
Kusmiati, S.Pd Tutor Kesetaraan Bontang 13 68,95
Ahmad Zubaidi, S.Pd Pengelola Kursus Kutai Kartanegara 17 71,05
Khurotin Pamong Belajar Kutai Kartanegara 22 67,30
Deviana Yupita Tata Rias Paser 23 73,03
Semua Peserta Senam Sajojo Kaltim 9 77,40
Semua Peserta Paduan Suara Kaltim 9 711,70

Keterangan lebih lengkap tentang peringkat dalam Jambore 1000 PTK-PNF Nasional dapat di Unduh di Sini

Tips Menulis

Komunitas Facebookers LSB

Iklan

Link Pendidikan Luar Sekolah

Juga Guru Juga Guru Info Kursus