100 Warga Buta Aksara Di Kec. Muara Kaman Ikuti Program KF

Komitmen pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam pemberantasan buta aksara di Kabupaten terkaya di Kaltim ini semakin terbukti. Dengan program Keaksaraan Fungsional yang di gelar di masing-masing Kecamatan dan desa di Kutai Kartanegara, Salah satunya adalah program keaksaraan fungsional di tahun 2011 ini diselenggarakandi Desa Sidomukti Kecamatan Muara Kaman.

Sebanyak 100 orang warga belajar keaksaraan fungsional yang akan mulai belajar dibuka secara simbolis oleh Kepala SKB Tenggarong, Ida Wahyu Sayekti, S.Pd, M.Pd, dalam pembukaan tersebut juga di hadiri oleh Pimpinan LKP. Darul Ilmi, Suyono,  sebagai penyelenggara kegiatan serta Kepala Desa Sidomukti Sumiyarso.

Dalam sambutanya Ida Sayekti mengatakan bahwa pendidikan keaksaraan ini merupakan salah satu program unggulan dari kepemimpinan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widya Sari, yang mana salah satunya adalah pemberantasan buta aksara di Kutai Kartanegara. Sebab menurut catatan di Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 ini angka penderita buta aksara di Kukar cukup besar, yaitu sebanyak 18.000 orang. Hal ini menurut Ida Sayekti butuh kerja kerasa bagi semua pihak menyelesaikanya, sebab bila tidak maka angka tersebut tidak akan pernah berkurang atau mungkin bertambah, karena tingginya angka urbanisasi di Kalimantan Timur. “Kegiatan semacam ini harus perlu digalakkan, sebab bila hanya dibebankan ke pemerintah, maka pemerintah punya keterbatasan kemampuan untuk melaksaakanya, sehingga kepedulian masyarakat secara keseluruhan sangat dibutuhkan” Ujar Ida.

Untuk itu menurut Ida, perlu semakin di galakkan disegala pelosok Kukar tutor-tutor keaksaraan yang membuka kelas-kelas pelajaran keaksaraan, sehingga kegiatan semacam ini akan semakin semarank dan akan menekan angka buta aksara di Kukar yang semakin melebar, imbuh Ida.

Pada kesempatan pembelajaran keaksaraan ini peserta didik juga akan dibekali juga dengan beberapa keterampilan dasar yang nantinya menjadi modal berkegiatan dalam kelompok belajar masing-masing dan diharapkan setelah mengikuti keaksaraan dasar ini para peserta dapat mendapatkan SUKMA (Surat Melek Aksara) dan dapat melanjutakan ke program berikutnya yaitu Keaksaraan Wirausaha Mandiri.

30 Tutor PAUD Ikuti Diklat Peningkatan Mutu

TENGGARONG – Diklat Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) program peningkatan mutu PTK-PNF, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kaltim selama lima  hari, sejak 24 – 28 Oktober 2011. Diklat tersebut diikuti oleh para Tutor Pendidik Anak Usia Dini sebanyak 30 orang. Adapun peserta berasal dari satuan pendidikan anak usia dini dalam wilayah kerja UPT-SKB Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara melipti Kecamatan Samboja, Muara Jawa dan Sangasanga.
Diklat yang berlangsung di aula Hotel Bintang Jl.A.Yani Kecamatan Muara Jawa dibuka Kadisbud Kaltim H Musyahrim, dengan 30 peserta terdiri dari berbagai lembaga PAUD. Menurut Kadisbud Kaltim melalui Kasi Peningkatan Mutu PNF dan Diklat Yekti Utami S Sen MPd mengatakan Paud mulai banyak dikenal sekitar tahun 2000 dengan ditandai dibentuknya Direktorat Paud. Namun konsep tentang Paud sebenarnya sudah ada sebelum itu ,bahkan sudah dikenal sejak jaman kerajaan yang dikenal dengan istilah Systim Cantrik,pada jaman Belanda dinamakan Europese Lagere School (ELS) dan Froebelschool , pada penjajahan Jepang beralih ke systim Nippon yang merupakan cikal bakal Taman Kanak-kanan (TK) dan yang pertama kali dikenalkan oleh Ki Hajar dewantara melalui Taman Siswa dengan ditandai berdirinya Taman Indria di Kotagede Jogjakarta pada tanggal 3 Juli 1922.” Taman Kanak-kanak ini memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dibawah tujuh tahun,” katanya.
Menurut dia, pada dasarnya PAUD dilaksanakan sebagai persiapan sebelum menempuh pendidikan dasar dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya,sehingga dalam pelaksanaannya harus mengacu pada kondisi ,kebutuhan dan kepentingan anak.”Sebagai orang tua dan pendidik yang perlu diperhatikan bahwa dalam pengasuhan anak usia dini hendaknya diikuti pemahaman yang mendalam mengenai pola perkembangan anak,” ujarnya.
Secara terpisah Ketua Panitia Purwaningsih Larasati,SP mengatakan Diklat tersebut, merupakan program dari pusat yang dilaksanakan melalui UPTD PKB Kaltim dan dilaksanakan di  wilayah kerja UPT-SKB Muara Jawa . “Jadi UPT- SKB Muara Jawa ditunjuk sebagai penyelenggara kegiatan pelatihan peningkatan mutu pendidik Paud,” katanya.
Menurutnya, diklat bertujuan dalam upaya menyukseskan program Paud, khususnya program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pendidik tentang konsep bermain anak usia dini. Melalui diklat, peserta diharapkan dapat mempraktekkan keterampilan dasar mengajar pendidik Paud. Selain itu peserta juga diharapkan mampu menjelaskan jenis-jenis kompetensi pendidik PAUDNI sesuai Permendiknas 58/2009 tentang standar Paud. Harapnya.
Peserta diklat dibekali materi pelatihan seperti kebijakan Paud, strategi peningkatan mutu pendidik Paud ,Penyelenggaraan Paud dengan pendekatan BCCT,Perkembangan Anak, Bermain dan Anak ,Jenis dan penerapanya , Penataan lingkungan Bermain, Etika pendidik dan komunikasi anak usia dini serta Kompetensi Pendidik Paud. dan Perencanaan dan Evaluasi Pembelajaran yang Menyenangkan untuk Anak. Dengan pemateri disampaikan dari UPTD- Pusat Pengembangan Belajar Prov Kaltim Yekti Utami,S Sen MPd, Dra.Hj Rahana nurul Aini,Dra Sumartini, Tri Widayati SP MPd dan Sunarti, SPd.

Kukar Raih Anugerah Aksara Tingkat Madya

JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kaartanegara (Kukar) kembali mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mampu menurunkan angka buta aksara yang cukup signifikan. Hal itu dibuktikan dengan diberikannya penghargaan kepada Bupati Kukar, Rita Widyasari sebagai daerah yang berhasil melaksanakan program pemberantasan buta aksara kategori Akasra Tingkat madya.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Mendiknasbud) H Mohammad Nuh pada puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46 yang berlangsung di Gedung D Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Jumat (21/10) lalu. Penghargaan serupa juga diberikan pada sejumlah Bupati dan Walikota se Indonesia, kalangan swasta, pengelola lembaga keterampilan PKBM,Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan penerima penghargaan lainnya yang dianggap berjasa dalam upaya pemberantasan buta aksara di Indonesia.
Sejumlah kepala daerah, selain Bupati Kukar Rita Widyasari, perima penghargaan, juga diberikan kepada  7 Bupati dan 1 Walikota yakni Bupati Cirebon ,Sukabumi, Kutai Kartanegara, Tabalong, Pekalongan, Kemayoran, Semarang, Walikota Tasikmalaya dan Bupati Fakfak Barat. Pemberian Penghargaan Anugrah Aksara Tingkat Madya tersebut diserahkan Mendikbud M Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari S.sos, MM yang diterimakan oleh Asisten IV Drs H Bahrul M Si.
Dalam sambutannya, M Nuh mengatakan Indonesia terus berupaya menurunkan tingkat kebuta aksaraan dari 4,79 persen atau setara dengan  8,3 juta penduduk Indonesia. Dikatakan M Nuh aksara itu bisa diibaratkan sebagai media, media untuk berkomunikas, kita bisa membayangkan kalau hidup kita tidak ada media, dan komunikasi itu menjadi keharusan dalam kehidupan kita dari bagian sosial komunitas kehidupan.  ”Disitulah keaksaraan itu menjadi sangat penting, keaksaraan simbol grafis yang mencerminkan  budaya dan masyarakat yang nantinya akan bermuara pada ujaran, didalamnya ada nilai di situlah diterjemahkan sebagai ajaran,” katanya, memberi contoh seperti mengenal karakter huruf hijaiyah yang memiliki makna tersendiri setriap huruf,  dan itulah bagian dari proses pembuyadaan yang diciptakan. “Saya berharap disetiap anak bangsa mampu mengenal karakter yang umum dipakai, pemberantasan aksara menjadi tugas kita semua, tidak ada alasan untuk tidak mengenal aksara sebagai bangin dari komunikasi masyarakat kita,” ujarnya.
Meskipun usianya 50 tahun lanjut M Nuh kita harus tetap memperkenalkan aksara kepada anak cucu kita, dan peran PNFI  bekerjasama dengan lembaga lain untuk mengenalkan karekter aksara. “Mari kita bangkitkan lagi, pendidik agar masyarakat kita lebih berbudaya, kita harus melakukan konservasi warisan budaya, mengembangkan budaya dengan sentuhan modernitas, budaya sebagai bangian kultural, dari budaya kita tingkatkan kualitas kehidupan. Dan saya ucapkan selamat kepada semua penerima anugerah aksara yang berperan dalam membebaskan kebuta aksaraan,” kata M Nuh seraya menambahkan yang tidak kalah penting dan mendasarnya lagi adalah buta mata hati, disitupulalah tidak cukup kita kembangkan kebuta aksaraan untuk menuntaskannya, akan tetapi kita harus meningkatkan jangan sampai kita buta mata hati kita disitulah letak dari kebudayaan hidup.

Sementara itu usai menerima penghargaan dari Mendikbud M Nuh, mewakili Bupati Kukar Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul menyampaikan kebanggaannya atas anugerah yang diperoleh kabupaten Kukar. “Atas nama Pemkab Kutai Kartanegara menyampaikan terimakasih atas penganugreahan ini, tentunya hal ini semua berkat kerja keras semua unsur terutama Dinas Pendidikan dan kebudayaan,” sambut Bahrul seraya berharap semoga kedepannya kita terus meningkatkan prestasi disegala bidang terutama yang berkaitan dengan pemberantasan buta aksara di Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi bebas buta aksara. Demikian katanya.

Disdik Diharap Dapat Petakan Wilayah Buta Aksara Di Kukar

TENGGARONG – Dengan telah diterimanya penghargaan aksara kategori Aksara Tingkat Madya, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara resmi mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mempu menurunkan angka buta aksara di Indonesia pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46. Anugerah tersebut diserahkan langsung Mendiknasbud H Mohammad Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari melalui Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul di Gedung D Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Jumat (21/10) lalu.
Untuk mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar, Asisten IV H Bahrul mengatakan bahwa hal tersebut diperlukan pemetaan tempat lokasi guna mempermudah dalam pemberantasan buta aksara, “Saya rasa inilah salah satu cara dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kutai Kartanegara dengan cara memetakan wilayah, mulai dari tengah, hulu maupun wilayah pesisir pantatai dalam 18 kecamatan,” kata Bahrul.
Menurut dia, pemberantasan buta aksara terkadang ada yang tidak mau mengikuti paket A,B dan C dengan masalah ekonomi dan kondisi giografis. Nah lanjut Bahrul, disinilah peran Tutor melakukan sistem jemput bola dari rumah ke rumah, kalau tidak bisa pagi, sore atau malam, “Tentunya hal ini harus di fasilitasi pemerintah melalui dinas pendidikan, misalnya didaerah pedalaman harus ada arakit atau perahu tempat warga belajar. Dan begitu kita fasilitasi jangan kaku dengan waktu dan kondisi wilayah, melainkan peran tutor harus mendatangi ke-rumah warga,” katanya seraya meminta kepada Disdik Kukar agar terlebih dahulu melakukan pemetakaan wilayah, lokasi yang akan dilakukan pembinaan, jangan sampai polanya disamakan misalnya orang tua dengan anak muda itu harus dipisah sesuai dengan umur. ujarnya.
Bahrul juga berharap dengan adanya penghargaan ini kata dia, otomatis Pemkab Kukar melalui disdik Kukar akan terus berupaya meningkatkan prestasi yang merupakan motovasi minimal mempertahankan bahkan ditahun mendatang dapat ditingkatkan. “Pada hakekatnya hal ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah terutama peran masyarakat juga tidak boleh berdiam diri agar segera menginformasikan dan mengajak yang masih belum bisa membaca untuk bersama-sama memberantas buta aksara,” katanya.

Ditambahkan Bahrul, kedepan juga perlu dilibatkan pihak swasta agar proaktif terutama dilingkungan masing-masing selain peran PKBM salah satunya. “Inilah yang akan kita lakukan dengan melibatkan pihak swasta dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar. Tidak hanya memberantas buta aksara tetapi bagaimana kita menciptakan buta hati yang tidak mudah dan tentunya hal ini merupakan tanggungjawab kita bersama, termasuk dalam mengembangkan karekter budaya bangsa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,”. Demikian tambahnya

1.248 siswa ikuti Ujian Program Paket C

TENGGARONG – Sejumlah 1.248  peserta Belajar Kesetaraan di Kutai Kartanegara (Kukar) mengikuti Ujian Nasional Program Paket (UNPP) 11 hingga 14 Oktober 2011. Ratusan siswa tersebut berada di bawah asuhan Pusat Kegiatan Belajar ( PKBM ) yang tersebar di 18 kecamatan. Mayoritas warga belajar berasal dari Program Kesetaraan Paket Pendidikan Non-Formal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara DR Hermawan melalui Kasubid PNFI Syaiful Anwar mengatakan, para siswa dari 18 Kecamtan Kukar tersebut akan mengikuti Ujian Nasional Program Paket A,B dan C periode kedua tahun 2011. Periode pertama telah digelar Juli lalu.
Dia menambahkan, peserta UNPP periode pertama 2011 berjumlah 1.673 siswa yang masing-masing berasal dari program reguler terdiri dari 199 paket A, 480 paket B dan 994 paket C. Sementara untuk periode kedua tahun 2011 peserta UNPP berjumlah 1.248 siswa, dengan rincian paket A 164 siswa yang 63 di antaranya siswa wanita, paket B berjumlah 362 siswa   dan peserta paket C setara SMA jumlah peserta 722 siswa.
Menurut Syaiful, tidak ada perbedaan antara ijazah paket dengan ijazah yang diperoleh melalui ujian formal. “Yang membedakan hanya tanda tangan pada ijazah. Kalau ijazah paket ditandatangani kepala dinas kabupaten/kota masing-masing, sementara ijazah formal ditandatangani kepala sekolah,” ujar Syaiful kemarin di Tenggarong.
Dia berharap warga belajar lulus 100 persen dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Inilah yang kita harapkan ke depannya. Warga belajar bisa lulus 100 persen. Minimal warga belajar sudah memiliki ijazah dan ilmu sesuai dengan tingkatannya,” demikian harapnya.

Tips Menulis

Komunitas Facebookers LSB

Iklan

Link Pendidikan Luar Sekolah

Juga Guru Juga Guru Info Kursus