>

About Bukhori

Ketua Ikatan Penilik Indonesia ( IPI ) Kab.Kukar
Website:
Bukhori has written 52 articles so far, you can find them below.


Diklat Teknis Bagi Penilik PAUDNI Kulidor Kalimantan

BANJARMASIN, Guna memperluas akses dan peningkatan mutu layanan pendidikan bagi masyarakat  yang lebih baik, Balai Pengembangan Pendidikan nonformal dan Informal (BP-PNFI) regional VI Banjarmasin Menggelar Pendidikan dan Latihan (diklat) Teknis bagi penilik PAUDNI se wilayah kulidor Kalimantan berlangsung  23 s/d 25 April 2012 di Hotel Blue Atlantik Jl,Pangeran Antasari Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Diklat dikuti 50 peserta terdiri, penilik dari Provinsi Kalimantan selatan berjumlah 18 orang ,Kalimantan Tengah 9 orang,Kalimantan Timur 13 orang dan Kalimantan Barat sebanyak 10 orang itu dimaksudkan dapat meningkatkan pengetahuan ,ketrampilan dan sikap Penilik dalam melaksanakan tugas dan fungsi sesuai dengan kompetensinya ,serta meningkatkan profesionalisme sebagai penilik PAUDNI.

Kepala Dinas Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan Dr. Ngadimun  dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Balai Pendidikan Pendidikan Nonformal dan Informal Regional VI Banjarmasin Dr.Samtomengatakan,Penilik sebagai  salah satu tenaga kependidikan di jalur pendidikan nonfarmal merupakan jabatan fungsional yang dimasa akan dating bertindak sebagai penjamin mutu penyelenggaraan program-program pendidikan nonformal yang mempunyai tugas merencanakan,melaksanakan ,menilai,membimbing dan melaporkan penyelenggaraan kegiatan pendidikan nonformal di wilayah kerjanya.

Selanjutnya Ngadimun mengharapkan, Penilik dalam melaksanakan tugas dan fungsinya  perlu mendapatkan apresiasi  oleh  semua pihak ,karena melalui penghargaan dan apresiasi itu diharapkan mereka akan memiliki kinerja yang tinggi.Salah satu bentuk apresiasi yang dapat diberikan adalah dengan memberikan  kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya sehingga mereka dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara baik dan benar “ Dengan memberikan Kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan kualifikasi dan kompetensinya itulah sehingga mereka dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara baik dan benar” tegasnya.

Sementara itu  Ketua Panitia  pelatihan  Achmad Mauluddin,S.Kom , berharap agar para penilik yang mendapatkan kesempatan mengikuti Diklat ini ,hendaknya dapat mengikuti  dengan baik dan nantinya dapat meningkatkan pengetahuan kemampuan dan ketrampilan penilik agar mampu dan dapat meningkatkan kinerjanya secara professional.” Saya minta kepada para peserta dapat mengikuti diklat ini dengan sebaik mungkin “ pinta Achmad Mauluddin.

Sementara itu nara sumber kata Achmad Mauluddin ,selain menghadirkan nara sumber dari Daerah (Disdik Prov Kalsel,Unlam dan BP PNFI Regional VI Banjarmasin ) Juga mengahdirkan Nara sumber dari Pusat  diantaranya Drs Abu Bakar Umar,M.Pd   dan Nasrudin masing –masing dari Direktorat P2TK PAUDNI.

Empat PKBM Ikuti Penataan Lembaga di Banjarmasin

Pemateri dalam Pelatihan Peningkatan Mutu PKBM di Banjarmasin

Guna meningkatkan dan merevitalisasi Lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kutai Kartanegara, Dinas Pendidikan (Disdik) Pemkab Kukar mengirim empat PKBM di acara Penataan Kelembagaan PKBM di Blue Atlantic Hotel, Banjarmasin.
Kegiatan yang berlangsung 11 hingga 14 April itu, selain menyosialisasikan kebijakan dan program pendidikan masyarakat 2012, juga pelaksanaan penataan kelembagaan PKBM oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (PAUDNI) Kemendiknas. Hal ini untuk mewujudkan peningkatan mutu penyelenggaraan program pendidikan masyarakat, membangun jejaring kerja, pendampingan penataan manajemen, dan pengembangan kewirausahaan di PKBM, serta menciptakan jajaring kemitraan dengan dunia usaha.
Ketua Forum PKBM Kukar H Sugito MM, Rabu (10/4) lalu menyatakan, lembaga PKBM yang mewakili Kukar yakni PKBM Puspa Wijaya Tenggarong, PKBM Yapka Tenggarong Seberang, PKBM Putra Kutai Tenggarong, dan PKBM KH Dewantara Sangasanga.
Saat ini di Kukar jumlah PKBM terdapat 22 lembaga yang tersebar di 18 kecamatan. Menurut dia, ke depan diharapkan lembaga PKBM merupakan salah satu lembaga penyelenggara program pendidikan masyarakat, hendaknya makin bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan program. Selain mempersiapkan tenaga pendidik dan kependidikan yang andal, juga memiliki kemampuan dan keterampilan untuk melaksanakan program-program pendidikan masyarakat.
“Dari kegiatan ini nantinya diharapkan yang mewakili PKBM Kutai Kartanegara dapat mempraktikkan dan memberikan ilmunya kepada lembaga PKBM lainnya,” katanya.
Ditambahkan dia, PKBM yang berlangsung di Banjarmasin tersebut diikuti 60 peserta dari koridor Kalimantan yang dibuka oleh Kepala Disdik Provinsi Kalsel Ngadimun

Kursus Komputer Guru di Sangasanga Berakhir

Semua pihak yang mendukung terselenggaranya pelatihan komputer

Pelatihan komputer bagi guru se-Kecamatan Sangasanga sudah dilaksanakan dalam dua tahapan sebanyak 200 orang. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) KH Dewantara Sangasanga bekerjasama dengan PT Indomining dan PT Adimitra Baratama Nusantara.

“SECARA keseluruhan sudah berlangsung sejak 15 Februari hingga 9 Maret lalu, dikelompokkan menjadi empat angkatan. Masing-masing angkatan sebanyak 50 peserta, dengan penjadwalan 25 peserta masuk pukul 13.00 dan 15.00 Wita. Dengan jumlah pertemuan sebanyak 9 kali,” kata Ketua PKBM KH Dewantara Sangasanga Ngateman SPd, Senin (9/4) dalam acara penutupan pelatihan komputer bagi guru se-Sangasanga.

Pelatihan tersebut ditutup oleh Camat Sangasanga melalui Kasubag Pelayanan Umum  Ahmad Syahrani, ditandai pelepasan tanda peserta secara simbolis. Dalam kesempatan itu, Ahmad Syahrani menyambut baik adanya pelatihan penguasaan komputer bagi seluruh guru yang ada di Sangasanga.
“Saya menyambut baik pelatihan ini dan sangat penting bagi guru sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan profesionalisme sebagai insan pendidik dalam mengemban amanah,” katanya.
Menurut dia, guru merupakan unsur utama dalam peningkatan SDM yang memiliki peranan sangat strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Hal ini berarti seorang guru bukan hanya mampu memainkan peranannya sebagai pendidik, tapi guru harus memiliki kompetensi dan menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), salah satunya bisa mengoperasikan komputer dan laptop.
Dijelaskan dia, Pemkab Kukar menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas dalam program pembangunan, baik peningkatan mutu sarana dan prasarana pendidikan maupun peningkatan sumber daya pengelola dan penyelenggara pendidikan, melalui program Gerbang Raja yakni satu guru satu laptop.
“Saya mengajak semua komponen masyarakat, stakeholder pendidikan dan dunia usaha atau perusahaan untuk meningkatkan kepedulian dan partisipasinya dalam membangun sinergi melalui jaringan kerja yang solid menuju tercapainya tujuan bersama. Yaitu meningkatkan mutu pendidik dan kependidikan dalam hal pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan,” ujarnya.
Dia juga mengucapkan mengapresiasi PKBM KH Dewantara Sangasanga yang telah bekerjasama dengan PT Indomining dan PT Adimitra Baratama Nusantara yang melaksanakan pelatihan komputer tersebut.
Dia optimistis dengan dilaksanakannya pelatihan komputer bagi seluruh guru di Sangasanga itu akan berkontribusi besar terhadap pembinaan dan pengembangan penyelenggaraan pendidikan di Kutai Kartanegara, khususnya di Sangasanga. “Saya berharap kepada semua peserta pelatihan, agar senantiasa mengembangkan ilmu yang telah dimiliki selama mengikuti pelatihan. Dan nantinya dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi peningkatan mutu sumber daya manusia,” katanya.
Hadir dalam penutupan pelatihan komputer itu di antaranya, kapolsek, danramil, para lurah se-Sangasanga, pimpinan PT Indomining dan PT Aditama, sejumlah kepala TK, SD, SMP, SMA dan SMK, serta peserta pelatihan dan undangan lainnya.

30 Tutor PAUD Ikuti Diklat Peningkatan Mutu

TENGGARONG – Diklat Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) program peningkatan mutu PTK-PNF, diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan Kaltim selama lima  hari, sejak 24 – 28 Oktober 2011. Diklat tersebut diikuti oleh para Tutor Pendidik Anak Usia Dini sebanyak 30 orang. Adapun peserta berasal dari satuan pendidikan anak usia dini dalam wilayah kerja UPT-SKB Muara Jawa Kabupaten Kutai Kartanegara melipti Kecamatan Samboja, Muara Jawa dan Sangasanga.
Diklat yang berlangsung di aula Hotel Bintang Jl.A.Yani Kecamatan Muara Jawa dibuka Kadisbud Kaltim H Musyahrim, dengan 30 peserta terdiri dari berbagai lembaga PAUD. Menurut Kadisbud Kaltim melalui Kasi Peningkatan Mutu PNF dan Diklat Yekti Utami S Sen MPd mengatakan Paud mulai banyak dikenal sekitar tahun 2000 dengan ditandai dibentuknya Direktorat Paud. Namun konsep tentang Paud sebenarnya sudah ada sebelum itu ,bahkan sudah dikenal sejak jaman kerajaan yang dikenal dengan istilah Systim Cantrik,pada jaman Belanda dinamakan Europese Lagere School (ELS) dan Froebelschool , pada penjajahan Jepang beralih ke systim Nippon yang merupakan cikal bakal Taman Kanak-kanan (TK) dan yang pertama kali dikenalkan oleh Ki Hajar dewantara melalui Taman Siswa dengan ditandai berdirinya Taman Indria di Kotagede Jogjakarta pada tanggal 3 Juli 1922.” Taman Kanak-kanak ini memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dibawah tujuh tahun,” katanya.
Menurut dia, pada dasarnya PAUD dilaksanakan sebagai persiapan sebelum menempuh pendidikan dasar dengan tujuan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya,sehingga dalam pelaksanaannya harus mengacu pada kondisi ,kebutuhan dan kepentingan anak.”Sebagai orang tua dan pendidik yang perlu diperhatikan bahwa dalam pengasuhan anak usia dini hendaknya diikuti pemahaman yang mendalam mengenai pola perkembangan anak,” ujarnya.
Secara terpisah Ketua Panitia Purwaningsih Larasati,SP mengatakan Diklat tersebut, merupakan program dari pusat yang dilaksanakan melalui UPTD PKB Kaltim dan dilaksanakan di  wilayah kerja UPT-SKB Muara Jawa . “Jadi UPT- SKB Muara Jawa ditunjuk sebagai penyelenggara kegiatan pelatihan peningkatan mutu pendidik Paud,” katanya.
Menurutnya, diklat bertujuan dalam upaya menyukseskan program Paud, khususnya program peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan pendidik tentang konsep bermain anak usia dini. Melalui diklat, peserta diharapkan dapat mempraktekkan keterampilan dasar mengajar pendidik Paud. Selain itu peserta juga diharapkan mampu menjelaskan jenis-jenis kompetensi pendidik PAUDNI sesuai Permendiknas 58/2009 tentang standar Paud. Harapnya.
Peserta diklat dibekali materi pelatihan seperti kebijakan Paud, strategi peningkatan mutu pendidik Paud ,Penyelenggaraan Paud dengan pendekatan BCCT,Perkembangan Anak, Bermain dan Anak ,Jenis dan penerapanya , Penataan lingkungan Bermain, Etika pendidik dan komunikasi anak usia dini serta Kompetensi Pendidik Paud. dan Perencanaan dan Evaluasi Pembelajaran yang Menyenangkan untuk Anak. Dengan pemateri disampaikan dari UPTD- Pusat Pengembangan Belajar Prov Kaltim Yekti Utami,S Sen MPd, Dra.Hj Rahana nurul Aini,Dra Sumartini, Tri Widayati SP MPd dan Sunarti, SPd.

Kukar Raih Anugerah Aksara Tingkat Madya

JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kaartanegara (Kukar) kembali mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mampu menurunkan angka buta aksara yang cukup signifikan. Hal itu dibuktikan dengan diberikannya penghargaan kepada Bupati Kukar, Rita Widyasari sebagai daerah yang berhasil melaksanakan program pemberantasan buta aksara kategori Akasra Tingkat madya.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Mendiknasbud) H Mohammad Nuh pada puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46 yang berlangsung di Gedung D Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Jumat (21/10) lalu. Penghargaan serupa juga diberikan pada sejumlah Bupati dan Walikota se Indonesia, kalangan swasta, pengelola lembaga keterampilan PKBM,Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan penerima penghargaan lainnya yang dianggap berjasa dalam upaya pemberantasan buta aksara di Indonesia.
Sejumlah kepala daerah, selain Bupati Kukar Rita Widyasari, perima penghargaan, juga diberikan kepada  7 Bupati dan 1 Walikota yakni Bupati Cirebon ,Sukabumi, Kutai Kartanegara, Tabalong, Pekalongan, Kemayoran, Semarang, Walikota Tasikmalaya dan Bupati Fakfak Barat. Pemberian Penghargaan Anugrah Aksara Tingkat Madya tersebut diserahkan Mendikbud M Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari S.sos, MM yang diterimakan oleh Asisten IV Drs H Bahrul M Si.
Dalam sambutannya, M Nuh mengatakan Indonesia terus berupaya menurunkan tingkat kebuta aksaraan dari 4,79 persen atau setara dengan  8,3 juta penduduk Indonesia. Dikatakan M Nuh aksara itu bisa diibaratkan sebagai media, media untuk berkomunikas, kita bisa membayangkan kalau hidup kita tidak ada media, dan komunikasi itu menjadi keharusan dalam kehidupan kita dari bagian sosial komunitas kehidupan.  ”Disitulah keaksaraan itu menjadi sangat penting, keaksaraan simbol grafis yang mencerminkan  budaya dan masyarakat yang nantinya akan bermuara pada ujaran, didalamnya ada nilai di situlah diterjemahkan sebagai ajaran,” katanya, memberi contoh seperti mengenal karakter huruf hijaiyah yang memiliki makna tersendiri setriap huruf,  dan itulah bagian dari proses pembuyadaan yang diciptakan. “Saya berharap disetiap anak bangsa mampu mengenal karakter yang umum dipakai, pemberantasan aksara menjadi tugas kita semua, tidak ada alasan untuk tidak mengenal aksara sebagai bangin dari komunikasi masyarakat kita,” ujarnya.
Meskipun usianya 50 tahun lanjut M Nuh kita harus tetap memperkenalkan aksara kepada anak cucu kita, dan peran PNFI  bekerjasama dengan lembaga lain untuk mengenalkan karekter aksara. “Mari kita bangkitkan lagi, pendidik agar masyarakat kita lebih berbudaya, kita harus melakukan konservasi warisan budaya, mengembangkan budaya dengan sentuhan modernitas, budaya sebagai bangian kultural, dari budaya kita tingkatkan kualitas kehidupan. Dan saya ucapkan selamat kepada semua penerima anugerah aksara yang berperan dalam membebaskan kebuta aksaraan,” kata M Nuh seraya menambahkan yang tidak kalah penting dan mendasarnya lagi adalah buta mata hati, disitupulalah tidak cukup kita kembangkan kebuta aksaraan untuk menuntaskannya, akan tetapi kita harus meningkatkan jangan sampai kita buta mata hati kita disitulah letak dari kebudayaan hidup.

Sementara itu usai menerima penghargaan dari Mendikbud M Nuh, mewakili Bupati Kukar Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul menyampaikan kebanggaannya atas anugerah yang diperoleh kabupaten Kukar. “Atas nama Pemkab Kutai Kartanegara menyampaikan terimakasih atas penganugreahan ini, tentunya hal ini semua berkat kerja keras semua unsur terutama Dinas Pendidikan dan kebudayaan,” sambut Bahrul seraya berharap semoga kedepannya kita terus meningkatkan prestasi disegala bidang terutama yang berkaitan dengan pemberantasan buta aksara di Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi bebas buta aksara. Demikian katanya.

Disdik Diharap Dapat Petakan Wilayah Buta Aksara Di Kukar

TENGGARONG – Dengan telah diterimanya penghargaan aksara kategori Aksara Tingkat Madya, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara resmi mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mempu menurunkan angka buta aksara di Indonesia pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46. Anugerah tersebut diserahkan langsung Mendiknasbud H Mohammad Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari melalui Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul di Gedung D Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Jumat (21/10) lalu.
Untuk mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar, Asisten IV H Bahrul mengatakan bahwa hal tersebut diperlukan pemetaan tempat lokasi guna mempermudah dalam pemberantasan buta aksara, “Saya rasa inilah salah satu cara dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kutai Kartanegara dengan cara memetakan wilayah, mulai dari tengah, hulu maupun wilayah pesisir pantatai dalam 18 kecamatan,” kata Bahrul.
Menurut dia, pemberantasan buta aksara terkadang ada yang tidak mau mengikuti paket A,B dan C dengan masalah ekonomi dan kondisi giografis. Nah lanjut Bahrul, disinilah peran Tutor melakukan sistem jemput bola dari rumah ke rumah, kalau tidak bisa pagi, sore atau malam, “Tentunya hal ini harus di fasilitasi pemerintah melalui dinas pendidikan, misalnya didaerah pedalaman harus ada arakit atau perahu tempat warga belajar. Dan begitu kita fasilitasi jangan kaku dengan waktu dan kondisi wilayah, melainkan peran tutor harus mendatangi ke-rumah warga,” katanya seraya meminta kepada Disdik Kukar agar terlebih dahulu melakukan pemetakaan wilayah, lokasi yang akan dilakukan pembinaan, jangan sampai polanya disamakan misalnya orang tua dengan anak muda itu harus dipisah sesuai dengan umur. ujarnya.
Bahrul juga berharap dengan adanya penghargaan ini kata dia, otomatis Pemkab Kukar melalui disdik Kukar akan terus berupaya meningkatkan prestasi yang merupakan motovasi minimal mempertahankan bahkan ditahun mendatang dapat ditingkatkan. “Pada hakekatnya hal ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah terutama peran masyarakat juga tidak boleh berdiam diri agar segera menginformasikan dan mengajak yang masih belum bisa membaca untuk bersama-sama memberantas buta aksara,” katanya.

Ditambahkan Bahrul, kedepan juga perlu dilibatkan pihak swasta agar proaktif terutama dilingkungan masing-masing selain peran PKBM salah satunya. “Inilah yang akan kita lakukan dengan melibatkan pihak swasta dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar. Tidak hanya memberantas buta aksara tetapi bagaimana kita menciptakan buta hati yang tidak mudah dan tentunya hal ini merupakan tanggungjawab kita bersama, termasuk dalam mengembangkan karekter budaya bangsa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,”. Demikian tambahnya

1.248 siswa ikuti Ujian Program Paket C

TENGGARONG – Sejumlah 1.248  peserta Belajar Kesetaraan di Kutai Kartanegara (Kukar) mengikuti Ujian Nasional Program Paket (UNPP) 11 hingga 14 Oktober 2011. Ratusan siswa tersebut berada di bawah asuhan Pusat Kegiatan Belajar ( PKBM ) yang tersebar di 18 kecamatan. Mayoritas warga belajar berasal dari Program Kesetaraan Paket Pendidikan Non-Formal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara DR Hermawan melalui Kasubid PNFI Syaiful Anwar mengatakan, para siswa dari 18 Kecamtan Kukar tersebut akan mengikuti Ujian Nasional Program Paket A,B dan C periode kedua tahun 2011. Periode pertama telah digelar Juli lalu.
Dia menambahkan, peserta UNPP periode pertama 2011 berjumlah 1.673 siswa yang masing-masing berasal dari program reguler terdiri dari 199 paket A, 480 paket B dan 994 paket C. Sementara untuk periode kedua tahun 2011 peserta UNPP berjumlah 1.248 siswa, dengan rincian paket A 164 siswa yang 63 di antaranya siswa wanita, paket B berjumlah 362 siswa   dan peserta paket C setara SMA jumlah peserta 722 siswa.
Menurut Syaiful, tidak ada perbedaan antara ijazah paket dengan ijazah yang diperoleh melalui ujian formal. “Yang membedakan hanya tanda tangan pada ijazah. Kalau ijazah paket ditandatangani kepala dinas kabupaten/kota masing-masing, sementara ijazah formal ditandatangani kepala sekolah,” ujar Syaiful kemarin di Tenggarong.
Dia berharap warga belajar lulus 100 persen dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Inilah yang kita harapkan ke depannya. Warga belajar bisa lulus 100 persen. Minimal warga belajar sudah memiliki ijazah dan ilmu sesuai dengan tingkatannya,” demikian harapnya.

20 Peserta Ikuti Pelatihan Menjahit Songkok Adat Kutai.

TENGGARONG ? Dalam Menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal memiliki keahlian dan mandiri serta untuk melestarikan budaya daerah  , Jumat (18/8/2011 ) bertempat di Pusat Kegiatan belajar Masyarakat Putri Karang melenu ,sekitar pukul 10.30 WIB mengukuhkan sebanyak 20 peserta pelatihan Menjahit  Pembuatan Songkok Adat Kutai yang dikemas dalam bentuk acara wisuda peserta.
Pelatihan menjahit yang bekerjasama dengan STIE Kutai Kartanegara  tersebut dilaksanakan di sekretariat PKBM Jl,   Yos sudarso 27 Loa Kulu , dan pada acara penutupan dihadiri oleh Dewan Pembina PKBM Kutai Kartanegara Awang Yacoub Luthman yang juga sebagai Ketua DPR Kukar tokoh masyarakat dan undangan lainnya .

Ketua  Panitia Syaiful Anwar, dalam laporannya pelatihan dilaksanakan selama satu minggu ,dengan adanya pelatihan ini ke depan dapat terlaksana secara terus menerus disamping manfaatnya sangat banyak dan dapat juga sebagai modal dalam membuka usaha. “Dari pelatihan tingkat dasar ini kedepan dapat lebih ditingkatkan serta dapat menciptakan karya?karya khas daerah Kutai ,” harap syaiful
“Untuk pelatihan jahit tingkat dasar ini dimulai dari tanggal 12 sd 18  Agustus 2011” tambahnya

Sementara itu Dewan Pembina PKBM Kutai Kartanegara Awang Yacoub Luthman dalam sambutannya mengatakan PKBM sebagai lembaga pendidikan Non Formal diharapkan dapat mengejawantahkan praktik kewirausahaan dalam pengelolaan pendidikan. Dengan demikian, warga belajar diharapkan memiliki kompetensi wirausaha yang diperoleh selama proses pendidikan.

Pada saat yang sama, lembaga PKBM mampu mengupayakan sumber pendanaan secara mandiri melalui pendirian dan pengembangan inkubator bisnis dan  bisnis tersebut diharapkan menjadi pemicu kemandirian lembaga, khususnya dalam pembiayaan operasional pendidikan, tanpa selalu menggantungkan subsidi penyelenggaraan dari pemerintah.

Lebih lanjut Awang mengingatkan bahwa  untuk menjalankan budaya kewirausahaan memang tidak mudah, banyak hambatannya terutama sumber daya manusia. Selanjutnya jejaring kemitraan juga turut menjadi penghambat dalam mengembangkan kewirausahaan. Untuk mengatasi permasalahan yang timbul maka PKBM Putri Karang Melenu diharapkan dapat membuat pusat kewirausahaan masyarakaat dengan berbasis potensi lembaga.

Selanjutnya Dewan  Pembina PKBM Putri Karang Melenu Awang Yacoub Luthman menyerahkan  bantuan berupa mesin jahit sebanyak 20 unit, perlengkapan computer dan memberikan parsel kepada peserta pelatihan pembuatan songkok adat kutai yang sebagian besar warga belajar Keaksaraan fungsional ( KF ).

PAUD Tunas Melati dapat Bantuan Gedung Melalui Program PNPM-MP

TENGGARONG- Pemerintah pusat melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat – Mandiri Pedesaan (PNPM – MP) Kecamatan Sangasanga , Kabupaten Kutai Kartanegara Kalimantan Timur , membangun gedung PAUD  dan sarana pendukung lainnya di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga. Pembangunan PAUD itu untuk menjawab kebutuhan masyarakat setempat.

“Gedung ini untuk kelancaran belajar mengajar pada sekolah tersebut. Pembangunan gedung ini sebenarnya sudah diusulkan kepada Pemerintah Kabupaten,  tapi belum ada jawaban, sehingga masyarakat mengusulkan kembali melalui PNPM  Kecamatan Sangasanga ,”  kata Lurah Pendingin, Sriwahyuni Ermawati SSPP, saat serah terima Gedung PAUD beberapa waktu lalu.

Sriwahyuni Ermawati SSPP  mengatakan, masyarakat mengusulkan pembanguan gedung PAUD  itu  kepada fasilitator Kecamatan Sangasanga  saat penggalian gagasan dari tingkat RT hingga ke tingkat kelurahan untuk ditetapkan sebelum melakukan musyawarah desa.

Atas usul tersebut, lanjut Sriwahyuni Ermawati SSPP, pemerintah saatnya memperhatikan masalah pendidikan, termasuk membangun gedung sekolah itu. Kondisi gedung yang tidak layak tentunya akan mempengaruhi psikologi anak dalam menapaki jenjang pendidikan. “Pembangunan gedung sekolah tentu akan memberi kenyamanan bagi anak-anak untuk belajar,” ujarnya.

Selain membangun  gedung PAUD sebanyak tiga local ruang Tutor dan WC dengan jumlah nilai 189 Juta , kata Sriwahyuni Ermawati SSPP, PNPM juga memberi bantuan smenisasi Turap sepanjang 600 M dengan jumlah nilai 197 Juta . Bantuan tersebut di lokasi yang sama yaitu di ban  II Kelurahan Pendingin

Menurutnya, batuan PNPM itu sangat bagus dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Karena itu, pelaksanaannya harus dijaga agar tidak terjadi kekeliruan dan program itu akan terus berlanjut. “Banyak usul masyarakat yang tidak diakomodir pemerintah, bisa diakomodir oleh PNPM,” ujar Sriwahyuni.

250 Warga Buta Aksara di Kecamatan Sangasanga dapat Pendidikan KF

TENGGARONG- Sebanyak 250 orang dari 1.105 jiwa penyandang buta aksara di Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur  mendapatkan pendidikan keaksaraan fungsional (KF). Program KF  trersebut sudah dilaksanakan Seminggu yang lalu di setiap Kelurahan dengan membentuk kelompok belajar

Kepala Cabang Dinas Pendidikan Irianto,S.Pd melalui Penilik PAUD NI Kecamatan Sangasanga Bukhori,S.Pd saat menyerahkan modul di kelurahan Sangasanga Muara mengatakan, mereka yang mengikuti program ini berusia antara 15-45 tahun. Pendidikan KF dilaksanakan setiap seminggu tigakali  dengan lama pendidikan selama 6 bulan.

“Mereka telah mendapatkan KF dari tutorial.  KF merupakan tingkat terendah dari  pendidikan Non Formal sebelum mengikuti Paket A, B dan C,” kata Bukhori, Rabu (8/8).

Sebagai tutor, kata Bukhori  adalah mahasiswa Universitas Mulawarman  (Unmul) sebanyak 10 orang yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di Kecamatan Sangasanga  dan para tutor binaan Pusat Kegiatan belajar masyarakat (PKBM) KH Dewantara angasanga . Nantinya, Warga  penyandang  buta aksara tersebut akan setelah  mengikuti tutorial selama 6 bulan alkan mendapatkan ijazah yang disebut dengan surat melek aksara (Sukma).

“Mereka juga belajar seperti pendidikan di sekolah umum. Setelah mengikuti tutorial selama 6 bulan , kami akan mengirimkan hasil KF ke dinas Kabupaten Kutai Kartanegara  untuk mendapatkan Sukma,” katanya.

Kata Bukhori , di kecamatan Sangasanga  berdasarkan data BPPS warga penyandang buta aksara sebanyak 1.105 jiwa programpendidikan KF ini juga sudah dilaksanakan satu tahun 2010 yang lalu dan tercatat sebanyak 160 warga , Yang 250  orang ini merupakan peserta KF angkatan tahun 2011.

Diungkapkan Bukhori,  pemberantasan buta aksara di Kecamatan Sangasanga terkendala dengan keterbatasan Tenaga /Tutor .

“ Melalui PKBM  membuka kesempatan bagi warga masyarakat yang berminat untuk menjadi tutor  KF dalam bentuk Out Sorcing “ tambahnya

Kalau didaerah lain dana merupakan kendala utama dalam pemberantasan penyandang buta aksara tetapi di Kecamatan Sangasanga masalah Pendanaan ungkap Bukhori ,tidak masalah mengingat CSR dari beberapa perisahaan Tambang Batu Bara kami belum dapat menjalankan dengana maksimal seperti PT Indomining,Sanga Coal Indonesia  dan PT Bina Mitra Nusantara ,walau tutor masih minim, kami  akan berkerja sekuat tenaga membebaskan Kecamatan Sangasnaga  dari buta Aksara,” ujarnya.

Rakor PNFI Kukar Dengan Organisasi Mitra

TENGGARONG- Pada hari Sabtu 30–31 JuLI 2011 Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara mengadakan Rapat Koordinasi Pendidikan Nonformal danInformal dengan organisasi mitra di Hotel Elizha Jl.Naga Tenggarong. Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara Dr.Ir Hermawan,M.Si.Rakor diikuti sebanyak 75 orang peserta dari unsur  organisasi mitra PTK-PNFI terdiri Kepala Pusat Kegiatan belajar Masyarakat(PKBM), tutor PAUD,Keaksaraan dan Kesetaraan , pengembang PAUD di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Acara Rapat Koordinasi diawali dengan laporan ketua panitia oleh Kabid  PNFI,PAUD dan Kejuruan H.Bahransyah yang menyampaikan tentang maksud dan tujuan dilaksanakannya Rapat Koordinasi Pendidikan Nonformal dan Informal dengan organisasi Mitra. Rakor ini dilaksanakan sebagai upaya untukmeningkatkan koordinasi antara pemangku kepentingan (stakeholder) baik tingkat Kabupaten daerah dalam rangka meningkatkan pelayanan PNFI terhadap masyarakat.

Kepala Dinas Pendidikan dalam sambutannya mengatakan bahwa diakuainya masih belum maksimalnya peran lembaga PKBM dalam menyelenggarakan penyelenggaraan program PAUD NI,dan masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang program atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Lebih lanjut Kepala Dinas mengharapkan melalui Rapat Koordinasi Pendidikan Non Formal danInformal nantinya dapat menyamakan persepsi dalam mengembangkan dan merealisasikan program kerja sub bidang Pendidikan Nonformal dan Informal.

“Melalui Rakor ini saya harapkan nantinya dapat menyamakan persepsi diantara kita “ pinta Hermawan.

Selain itu peserta rakor nantinya dapat mengevaluasi kinerja tertama di PKBM,meletakkan kerangka lembaga PKBM serta meningkatkan wawasan pengetahuan dan pengalaman pengelola PKBM.

Narasumber terdiri dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat ,Kemendiknas Hamzah Hakim,S.Pd.M.Pd, Dinas Pendidikan Propinsi Kalimantan Timur dan Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara.

Comdev PT. INDOMINING Dukung Pemberantasan Buta Aksara

Pembukaan Kelas Warga Belajar Keaksaraan di Sangasanga

TENGGARONG – Warga Belajar Keaksaraan Fungsional (KF) Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 secara  resmi dibuka perdana oleh Kepala Dinas Pendidikan melalui Kepala Bidang PAUDNI dan Kejuruan Bahransyah Kamis (28/7) di Balai Pertemuan Kantor Keluahan Pendingin Jl.Jaya Makmur Kelurahan Pendingin Sangasanga,sebagai penyelenggara PKBM KH Dewantara bekerjasama dengan PT Indomining
Dalam kesempatan itu, Bahransyah menyambut baik dan berterimakasih atas kepedulian dan sumbangsih PT Indomining terhadap pengembangan pendidikan masyarakat. “Perusahaan ini memiliki komitmen terhadap pendidikan masyarakat di Kecamatan Sangasanga terutama pendidikan PAUD NI,” katanya.
Dia berharap masyarakat dan pemerintah setempat menyambut baik komitmen PT Indomining. Betapapun, pendidikan adalah penting. “Program-program ini akan berlanjut jika para warga belajar sungguh-sungguh memanfaatkan momentum ini dengan baik, dan kerja sama semacam ini patut diteruskan  dan ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Apa yang dilakukan PT Indomining ini, lanjutnya, patut dijadikan contoh oleh perusahaan-perusahaan yang juga perduli untuk ikut membantu menjadikan masyarakat lebih berbudaya dan mandiri. Menyinggung masih tingginya angka buta aksara di Kutai Kartanegara berdasarkan data BPPS tahun 2011 disebutkan sebanyak 18,555 jiwa .Tingginya angka itu disebabkan oleh beberapa factor yakni kurangnya kepedulian masyarakat tehadap pendidikan ( pendidikan dianggab kurang penting), Ekonomi yang kurang mampu dan, Factor Geografis, Transmigrasi yang dilakukan oleh Pemerintah dan Persun di Kukar sejalan dengan program Gerbang Raja maka semua stekholder yang ada memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan masyarakat hal ini dimaksudkan untuk percepatan pengentasan dan menjadikan Kutai Kartanegara Zona Bebas Buta Aksara di tahun 2015 (ZBBA).
Asisten Comdev PT Indomining Imam Masrur mengatakan kerja sama ini adalah wujud keperdulian PT Indomining terhadap masalah pendidikan dan komitmen untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan masyarakat menuju kemandirian melalui pengembangan pendidikan melalui PKBM KH Dewantara  Sangasanga . Kerja sama selanjutnya akan dituangkan dalam program-program yang lebih komprehensif konseptual dan menyentuh kebutuhan masyarakat akan pentingnya pengetahuan dan skill. “Diharapkan PKBM menjadi agen perubahan pola piker dan pengetahuan masyarakat ke arah yang lebih positif dan mandiri,” ujarnya.
Ditambahkan Penilik PAUDNI Sangasanga Bukhori menjelaskan  kerjasama ini dimaksudkan untuk menyelenggarakan  kegiatan penuntasan dan pemberantasan KF. “Jumlah peserta warga belajar Keaksaraan Fungsional di Kecamatan Sangasanga pada 2011 berjumlah 25 kelompok atau sebanyak 250 warga dengan menggunakan dana PT Indomining sebesaar  Rp 703.280.000 dengan rincian program pemberantasan buta huruf Rp 281 juta, program paket Rp 200 juta, Rintisan PAUD Rp 81.780, pelatihan komputer bagi guru SD, SMP dan SMU Rp 100.500.000,- renopasi gedung PKBM KH Dewantara Sangasanga  Rp40 juta, program beasiswa SI 6 orang sampai selesai. Adapun warga belajar terdiri dari Kelurahan Pendingin sebanayak 10 kelompok , Kelurahan Sangasanga Muara 11 Kelompok dan Masing masing kelurahan Sarijaya dan Kelurahan Jawa sebanayak 2 Kelompok,” jelasnya.
Dalam kegiatan pembukaan perdana warga belajar keaksaraan juga disaksikan Camat Sangasanga, Kapolsek, Danramil, Pengurus LPM Pendingin, Aparak Kelurahan, Fungsional PKBM Ki Hajar Dewantara, Mahasiswa KKN Unmul, Comdev Asisten PT Indomining, Penilik PAUDNI dan Tokoh Masyarakat lainnya.

Wamendiknas Resmi Tutup Jambore 1000 PTK PAUDNI

MATARAM-Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Prof. Dr Fasli Jalal secara resmi menutup Jambore 1000 PTK PAUDNI (Pendidik dan tenaga kependidikan – Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal)  tingkat nasional tahun 2011, pada malam Penganugerahan PTK PAUDNI Berprestasi tahun 2011, di Auditorium Yusuf Abu Bakar Kompleks Universitas Mataram, Senin (18/7/2011).

Fasli Jalal mengatakan, Jambore 1000 PTK PAUDNI tingkat nasional tahun 2011, merupakan media untuk saling berbagi, saling belajar dan saling menunjukkan kebolehan dalam membangun semangat kebersamaan dan mencari terobosan didalam mencerdaskan anak bangsa.

Para pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini adalah orang-orang terpilih yang menjangkau anak-anak yang sedang berada pada fase usia emas, yang sangat menentukan masa depan bangsa.

“Kita akan menjangkau 28 juta anak kita. Kalau satu tenaga pendidik PAUD saja melayani 10 orang berarti kita butuh 2,8 juta pendidik dan tutor pendamping anak usia dini kita. Itu jumlah yang luar biasa,”ujarnya.

Wamendiknas berharap, kedepan juga dapat diselenggarakan berbagai lomba gebyar pendidik dan tenaga kependidikan di tingkat provinsi.  Kegiatan tersebut dengan melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan PAUDNI yang berasal dari berbagai desa, kecamatan dan kabupaten/kota.

Fasli Jalal mengungkapkan, Provinsi NTB merupakan provinsi pertama di luar jawa yang berani menjadi tuan rumah Jambore 1000 PTK PAUDNI. Keberhasilan kali ini, diharapkan dapat menjadi kesan manis untuk meneruskan perjuangan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Hadir dalam acara tersebut, Wakil Gubernur NTB Ir. H. Badrul Munir, MM, Dirjen PTK PAUDNI Hamid Muhammad, Kadispora Provinsi se-Indonesia, dan seluruh peserta Jambore 1000 PTK PAUDNI dari 33 Provinsi di Indonesia.

Pada Jambore 1.000 PTK PAUDNI tingkat nasional tahun 2011 yang digelar di Mataram ini, juara umum diraih oleh PTK PAUDNI dari Jawa Tengah. Untuk peringkat II direbut Provinsi DI Yogyakarta, peringkat III Provinsi Sumatera Barat, peringkat IV Provinsi NTB, dan peringkat V oleh Provinsi Bali.

Pembukaan Jambore 1000 PTK – PAUDNI di Mataram Berlangsung Meriah

Pic. Pemukulan Beduk Tanda Pembukaan Jambore PAUDNI 2011

MATARAM – Pembukaan Jambore 1000 Pendidik dan Tenaga Kependidikan – Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan nonformal dan informal (PTK – PAUDNI) tingkat nasional yang digelar di Lapangan Bumi Gora, Kantor Gubernur NTB, pada Kamis (14/7/2011), berlangsung meriah.

Ribuan masyarakat dan peserta jambore memadati halaman Kantor Gubernur yang berada di pusat Kota Mataram ini. Berbagai kesenian daerah seperti Gendang Beleq, Tari Rodat, Gule Gending dan Marching Band turut memeriahkan upacara pembukaan jambore tingkat nasional ini.

Pembukaan Jambore 1000 PTK – PAUDNI ditandai dengan pemukulan bedug oleh Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi bersama-sama Dirjen PAUDNI Kementerian Pendidikan Nasional Dr Hamid Muhammad, didampingi Wakil Gubernur Ir H Badrul Munir, Walikota Mataram H Ahyar Abduh dan Bupati Sumbawa Drs H Jamaludidn Malik.

Sebelum upacara pembukaan, acara diwarnai dengan pawai yang diikuti oleh seluruh peserta jambore PTK – PAUDNI yang berasal dari 33 provinsi se – Indonesia. Pawai juga dimeriahkan dengan keikutsertaan anak-anak usia dini dari PAUD se – Kota Mataram, yang seluruhnya menggunakan pakaian adat.

Pawai diawali dengan penampilan Marching Band Pelajar, yang diikuti oleh 15 pemuda – pemudi pembawa Bendera Merah Putih. Kemudian, secara berurutan peserta jambore insan PTK-PAUDNI dari 33 provinsi se-Indonesia ini juga berdeville dengan menampilkan adat budaya daerahnya masing-masing.

Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi dalam sambutannya mengatakan, pelaksanaan Jambore PTK-PAUDNI memiliki arti penting utamanya bagi para pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini untuk bertukar pengalaman dan gagasan.

“Dengan bertukar pengalaman dan gagasan, diharapkan ada kesatuan visi sehingga pendidikan anak usia dini di Indonesia di masa mendatang bisa lebih baik lagi,” ujar gubernur.

Dikatakannya, PAUD merupakan tahapan pendidikan yang sangat penting bagi pendidikan anak usia dini. Apa yang dilakukan para pendidik, lanjut gubernur,  merupakan kontribusi nyata untuk membangun generasi Indonesia yang lebih baik.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga H. L. Syafi’i melaporkan, Jambore 1000 PTK-PAUDNI akan berlangsung dari 14 – 19 Juli 2011, dan diikuti oleh 33 provinsi se-Indonesia. Jambore merupakan yang ke – 5 dan untuk pertama kalinya yang dilaksanakan di luar Pulau Jawa.

Sedangkan jumlah peserta yang mengikuti berbagai perlombaan berjumlah 462 orang. Untuk peserta didik yang mengikuti diklat, rakor, sosialisasi dan workshop sejumlah 460 orang. Penggembira 300 orang, panitia, juri dan pendukung acara 400 orang.

Syafi’i menambahkan, pelaksanaan kegiatan LKN, LKT, olahraga dan seni dilaksanakan di Asrama Haji dan LPMP Provinsi NTB pada 14 – 19 Juli 2011. Sedangkan gebyar malam anugerah PTK-PAUDNI berprestasi akan di gelar di Auditorium Yusuf Abu Bakar Kompleks Universitas Mataram.

Anggapan Pendidikan Tidak Penting Picu Peningkatan Angaka Buta Aksara Di Kukar

TENGGARONG,Sebagai bentuk kesungguhan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam upaya pemberantasan buta huruf, melalui Dianas Pendidikan Kabupaten mengadakan Sosialisasi Program Keaksaraan Fungsional dan Pelatihan untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK PAUD NI )  Senin, (11/7) di Hotel Karya Tapian 2 Jl.Patin Tenggarong.

Sosialisasi yang diikuti sebanyak 70 orang dari unsur Penilik, Kepala UPTD-SKB Ketua PKBM,TLD Tim Penggerak PKK, Mahasiswa dan undangan lainnya dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara yang diwakili oleh Kasubid PAUD NI dan Kejuruan H.Bahransyah,SE,MSi mengungkapkan bahwa program keaksaraan fungsional adalah program Nasional atau pemerintah,sehingga harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat,baik di kota maupun pedesaan di seluruh nusantara dan pemberantasan buta huruf dikaitkan dengan peran dan pekerjaan mereka di masyarakat.

Pemerintah Kukar kata Bahransyah bertekad akan menekan angka buta aksara di Kutai Kartanegara . Sampai dengan tahun 2015, ia berharap dapat menekan angka buta aksara sebanyak 0,5 sampai 1 persen. Menurutnya, keaksaraan tidak sebatas dapat membantu kehidupan atau meningkatkan kualitas hidup seseorang secara pribadi, tetapi dapat pula meningkatkan peradaban bangsa.

“Upaya menuntaskan buta aksara merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Bahransyah

Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan data statistik penyandang buta aksara yang paling tinggi di Kalimantan Timur,tahun 2005,penyandang buta aksara sebanyak 26.748 jiwa (usia produktif  usia 15-55 tahun) di Kutai Kartanegara sendiri diprioritaskan pada usia produktif tahun 2005 sebanyak 130 orang,tahun 2006 sebanyak 1.920 orang,tahun 2007 sebanyak 1.560 orang dan tahun 2008 sebanyak 540 orang.Rentang waktu hingga tahun 2011 mencapai 18.555 jiwa dengan demikian ada peningkatan dari tahun sebelumnya.

Bahransyah menambahkan naiknya angka ini ada beberapa penyebab antara lain Budaya masyarakat beranggapan pendidikan dianggap kurang penting,lebih baik bekerja,selanjutnya factor social ekonomi (keminkinan), factor gengsi (menutup diri ) dan factor geografis (kondisi alam sulit terjangkau oleh layanan pendidikan dan nterisolisir terutama mereka yang mengikuti program Transmigrasi.

keaksaraan merupakan pintu komunikasi sosial, komunikasi budaya dan ekonomi, yang sangat berhubungan erat dengan tingkat kesejahteraan dan kesehatan. Meski begitu, ia menyadari akan menemukan banyak kesulitan dalam pelaksanaannya, terlebih ketika mengajak para orangtua secara aktif.

“Pendekatannya tidak semata-mata baca tulis dan berhitung. Tetapi, pendekatan yang akan dilakukan adalah mengaitkan keaksaraan itu dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial. Sehingga mereka jadi tertarik. Melalui keaksaraan, kami ingin mengembangkan keberdayaan perempuan secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Page 1 of 41234»
Tips Menulis

Komunitas Facebookers LSB

Iklan

Link Pendidikan Luar Sekolah

Juga Guru Juga Guru Info Kursus