Filed under Keaksaraan Fungsional by Suyono on October 31, 2011 at 9:33 pm
no comments
Komitmen pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam pemberantasan buta aksara di Kabupaten terkaya di Kaltim ini semakin terbukti. Dengan program Keaksaraan Fungsional yang di gelar di masing-masing Kecamatan dan desa di Kutai Kartanegara, Salah satunya adalah program keaksaraan fungsional di tahun 2011 ini diselenggarakandi Desa Sidomukti Kecamatan Muara Kaman.
Sebanyak 100 orang warga belajar keaksaraan fungsional yang akan mulai belajar dibuka secara simbolis oleh Kepala SKB Tenggarong, Ida Wahyu Sayekti, S.Pd, M.Pd, dalam pembukaan tersebut juga di hadiri oleh Pimpinan LKP. Darul Ilmi, Suyono, sebagai penyelenggara kegiatan serta Kepala Desa Sidomukti Sumiyarso.
Dalam sambutanya Ida Sayekti mengatakan bahwa pendidikan keaksaraan ini merupakan salah satu program unggulan dari kepemimpinan Bupati Kutai Kartanegara Rita Widya Sari, yang mana salah satunya adalah pemberantasan buta aksara di Kutai Kartanegara. Sebab menurut catatan di Badan Pusat Statistik pada tahun 2011 ini angka penderita buta aksara di Kukar cukup besar, yaitu sebanyak 18.000 orang. Hal ini menurut Ida Sayekti butuh kerja kerasa bagi semua pihak menyelesaikanya, sebab bila tidak maka angka tersebut tidak akan pernah berkurang atau mungkin bertambah, karena tingginya angka urbanisasi di Kalimantan Timur. “Kegiatan semacam ini harus perlu digalakkan, sebab bila hanya dibebankan ke pemerintah, maka pemerintah punya keterbatasan kemampuan untuk melaksaakanya, sehingga kepedulian masyarakat secara keseluruhan sangat dibutuhkan” Ujar Ida.
Untuk itu menurut Ida, perlu semakin di galakkan disegala pelosok Kukar tutor-tutor keaksaraan yang membuka kelas-kelas pelajaran keaksaraan, sehingga kegiatan semacam ini akan semakin semarank dan akan menekan angka buta aksara di Kukar yang semakin melebar, imbuh Ida.
Pada kesempatan pembelajaran keaksaraan ini peserta didik juga akan dibekali juga dengan beberapa keterampilan dasar yang nantinya menjadi modal berkegiatan dalam kelompok belajar masing-masing dan diharapkan setelah mengikuti keaksaraan dasar ini para peserta dapat mendapatkan SUKMA (Surat Melek Aksara) dan dapat melanjutakan ke program berikutnya yaitu Keaksaraan Wirausaha Mandiri.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on October 26, 2011 at 1:23 am
no comments
JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Kutai Kaartanegara (Kukar) kembali mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mampu menurunkan angka buta aksara yang cukup signifikan. Hal itu dibuktikan dengan diberikannya penghargaan kepada Bupati Kukar, Rita Widyasari sebagai daerah yang berhasil melaksanakan program pemberantasan buta aksara kategori Akasra Tingkat madya.
Penghargaan tersebut diberikan langsung oleh Menteri Pendidikan Nasional dan Kebudayaan (Mendiknasbud) H Mohammad Nuh pada puncak Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46 yang berlangsung di Gedung D Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, Jumat (21/10) lalu. Penghargaan serupa juga diberikan pada sejumlah Bupati dan Walikota se Indonesia, kalangan swasta, pengelola lembaga keterampilan PKBM,Taman Bacaan Masyarakat (TBM), dan penerima penghargaan lainnya yang dianggap berjasa dalam upaya pemberantasan buta aksara di Indonesia.
Sejumlah kepala daerah, selain Bupati Kukar Rita Widyasari, perima penghargaan, juga diberikan kepada 7 Bupati dan 1 Walikota yakni Bupati Cirebon ,Sukabumi, Kutai Kartanegara, Tabalong, Pekalongan, Kemayoran, Semarang, Walikota Tasikmalaya dan Bupati Fakfak Barat. Pemberian Penghargaan Anugrah Aksara Tingkat Madya tersebut diserahkan Mendikbud M Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari S.sos, MM yang diterimakan oleh Asisten IV Drs H Bahrul M Si.
Dalam sambutannya, M Nuh mengatakan Indonesia terus berupaya menurunkan tingkat kebuta aksaraan dari 4,79 persen atau setara dengan 8,3 juta penduduk Indonesia. Dikatakan M Nuh aksara itu bisa diibaratkan sebagai media, media untuk berkomunikas, kita bisa membayangkan kalau hidup kita tidak ada media, dan komunikasi itu menjadi keharusan dalam kehidupan kita dari bagian sosial komunitas kehidupan. ”Disitulah keaksaraan itu menjadi sangat penting, keaksaraan simbol grafis yang mencerminkan budaya dan masyarakat yang nantinya akan bermuara pada ujaran, didalamnya ada nilai di situlah diterjemahkan sebagai ajaran,” katanya, memberi contoh seperti mengenal karakter huruf hijaiyah yang memiliki makna tersendiri setriap huruf, dan itulah bagian dari proses pembuyadaan yang diciptakan. “Saya berharap disetiap anak bangsa mampu mengenal karakter yang umum dipakai, pemberantasan aksara menjadi tugas kita semua, tidak ada alasan untuk tidak mengenal aksara sebagai bangin dari komunikasi masyarakat kita,” ujarnya.
Meskipun usianya 50 tahun lanjut M Nuh kita harus tetap memperkenalkan aksara kepada anak cucu kita, dan peran PNFI bekerjasama dengan lembaga lain untuk mengenalkan karekter aksara. “Mari kita bangkitkan lagi, pendidik agar masyarakat kita lebih berbudaya, kita harus melakukan konservasi warisan budaya, mengembangkan budaya dengan sentuhan modernitas, budaya sebagai bangian kultural, dari budaya kita tingkatkan kualitas kehidupan. Dan saya ucapkan selamat kepada semua penerima anugerah aksara yang berperan dalam membebaskan kebuta aksaraan,” kata M Nuh seraya menambahkan yang tidak kalah penting dan mendasarnya lagi adalah buta mata hati, disitupulalah tidak cukup kita kembangkan kebuta aksaraan untuk menuntaskannya, akan tetapi kita harus meningkatkan jangan sampai kita buta mata hati kita disitulah letak dari kebudayaan hidup.
Sementara itu usai menerima penghargaan dari Mendikbud M Nuh, mewakili Bupati Kukar Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul menyampaikan kebanggaannya atas anugerah yang diperoleh kabupaten Kukar. “Atas nama Pemkab Kutai Kartanegara menyampaikan terimakasih atas penganugreahan ini, tentunya hal ini semua berkat kerja keras semua unsur terutama Dinas Pendidikan dan kebudayaan,” sambut Bahrul seraya berharap semoga kedepannya kita terus meningkatkan prestasi disegala bidang terutama yang berkaitan dengan pemberantasan buta aksara di Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi bebas buta aksara. Demikian katanya.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on October 25, 2011 at 7:47 pm
no comments

TENGGARONG – Dengan telah diterimanya penghargaan aksara kategori Aksara Tingkat Madya, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) secara resmi mendapat pengakuan nasional sebagai salah satu daerah yang mempu menurunkan angka buta aksara di Indonesia pada puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-46. Anugerah tersebut diserahkan langsung Mendiknasbud H Mohammad Nuh kepada Bupati Kukar Rita Widyasari melalui Asisten IV Setkab Kukar H Bahrul di Gedung D Kementerian pendidikan dan Kebudayaan Jakarta Jumat (21/10) lalu.
Untuk mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar, Asisten IV H Bahrul mengatakan bahwa hal tersebut diperlukan pemetaan tempat lokasi guna mempermudah dalam pemberantasan buta aksara, “Saya rasa inilah salah satu cara dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kutai Kartanegara dengan cara memetakan wilayah, mulai dari tengah, hulu maupun wilayah pesisir pantatai dalam 18 kecamatan,” kata Bahrul.
Menurut dia, pemberantasan buta aksara terkadang ada yang tidak mau mengikuti paket A,B dan C dengan masalah ekonomi dan kondisi giografis. Nah lanjut Bahrul, disinilah peran Tutor melakukan sistem jemput bola dari rumah ke rumah, kalau tidak bisa pagi, sore atau malam, “Tentunya hal ini harus di fasilitasi pemerintah melalui dinas pendidikan, misalnya didaerah pedalaman harus ada arakit atau perahu tempat warga belajar. Dan begitu kita fasilitasi jangan kaku dengan waktu dan kondisi wilayah, melainkan peran tutor harus mendatangi ke-rumah warga,” katanya seraya meminta kepada Disdik Kukar agar terlebih dahulu melakukan pemetakaan wilayah, lokasi yang akan dilakukan pembinaan, jangan sampai polanya disamakan misalnya orang tua dengan anak muda itu harus dipisah sesuai dengan umur. ujarnya.
Bahrul juga berharap dengan adanya penghargaan ini kata dia, otomatis Pemkab Kukar melalui disdik Kukar akan terus berupaya meningkatkan prestasi yang merupakan motovasi minimal mempertahankan bahkan ditahun mendatang dapat ditingkatkan. “Pada hakekatnya hal ini merupakan tanggung jawab kita semua, baik pemerintah terutama peran masyarakat juga tidak boleh berdiam diri agar segera menginformasikan dan mengajak yang masih belum bisa membaca untuk bersama-sama memberantas buta aksara,” katanya.
Ditambahkan Bahrul, kedepan juga perlu dilibatkan pihak swasta agar proaktif terutama dilingkungan masing-masing selain peran PKBM salah satunya. “Inilah yang akan kita lakukan dengan melibatkan pihak swasta dalam mempercepat pemberantasan buta aksara di Kukar. Tidak hanya memberantas buta aksara tetapi bagaimana kita menciptakan buta hati yang tidak mudah dan tentunya hal ini merupakan tanggungjawab kita bersama, termasuk dalam mengembangkan karekter budaya bangsa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat,”. Demikian tambahnya
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on August 3, 2011 at 9:23 pm
no comments
TENGGARONG- Sebanyak 250 orang dari 1.105 jiwa penyandang buta aksara di Kecamatan Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara Propinsi Kalimantan Timur mendapatkan pendidikan keaksaraan fungsional (KF). Program KF trersebut sudah dilaksanakan Seminggu yang lalu di setiap Kelurahan dengan membentuk kelompok belajar
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Irianto,S.Pd melalui Penilik PAUD NI Kecamatan Sangasanga Bukhori,S.Pd saat menyerahkan modul di kelurahan Sangasanga Muara mengatakan, mereka yang mengikuti program ini berusia antara 15-45 tahun. Pendidikan KF dilaksanakan setiap seminggu tigakali dengan lama pendidikan selama 6 bulan.
“Mereka telah mendapatkan KF dari tutorial. KF merupakan tingkat terendah dari pendidikan Non Formal sebelum mengikuti Paket A, B dan C,” kata Bukhori, Rabu (8/8).
Sebagai tutor, kata Bukhori adalah mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) sebanyak 10 orang yang sedang melakukan Kuliah Kerja Nyata di Kecamatan Sangasanga dan para tutor binaan Pusat Kegiatan belajar masyarakat (PKBM) KH Dewantara angasanga . Nantinya, Warga penyandang buta aksara tersebut akan setelah mengikuti tutorial selama 6 bulan alkan mendapatkan ijazah yang disebut dengan surat melek aksara (Sukma).
“Mereka juga belajar seperti pendidikan di sekolah umum. Setelah mengikuti tutorial selama 6 bulan , kami akan mengirimkan hasil KF ke dinas Kabupaten Kutai Kartanegara untuk mendapatkan Sukma,” katanya.
Kata Bukhori , di kecamatan Sangasanga berdasarkan data BPPS warga penyandang buta aksara sebanyak 1.105 jiwa programpendidikan KF ini juga sudah dilaksanakan satu tahun 2010 yang lalu dan tercatat sebanyak 160 warga , Yang 250 orang ini merupakan peserta KF angkatan tahun 2011.
Diungkapkan Bukhori, pemberantasan buta aksara di Kecamatan Sangasanga terkendala dengan keterbatasan Tenaga /Tutor .
“ Melalui PKBM membuka kesempatan bagi warga masyarakat yang berminat untuk menjadi tutor KF dalam bentuk Out Sorcing “ tambahnya
Kalau didaerah lain dana merupakan kendala utama dalam pemberantasan penyandang buta aksara tetapi di Kecamatan Sangasanga masalah Pendanaan ungkap Bukhori ,tidak masalah mengingat CSR dari beberapa perisahaan Tambang Batu Bara kami belum dapat menjalankan dengana maksimal seperti PT Indomining,Sanga Coal Indonesia dan PT Bina Mitra Nusantara ,walau tutor masih minim, kami akan berkerja sekuat tenaga membebaskan Kecamatan Sangasnaga dari buta Aksara,” ujarnya.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on July 30, 2011 at 1:01 am
no comments

Pembukaan Kelas Warga Belajar Keaksaraan di Sangasanga
TENGGARONG – Warga Belajar Keaksaraan Fungsional (KF) Sangasanga Kabupaten Kutai Kartanegara tahun 2011 secara resmi dibuka perdana oleh Kepala Dinas Pendidikan melalui Kepala Bidang PAUDNI dan Kejuruan Bahransyah Kamis (28/7) di Balai Pertemuan Kantor Keluahan Pendingin Jl.Jaya Makmur Kelurahan Pendingin Sangasanga,sebagai penyelenggara PKBM KH Dewantara bekerjasama dengan PT Indomining
Dalam kesempatan itu, Bahransyah menyambut baik dan berterimakasih atas kepedulian dan sumbangsih PT Indomining terhadap pengembangan pendidikan masyarakat. “Perusahaan ini memiliki komitmen terhadap pendidikan masyarakat di Kecamatan Sangasanga terutama pendidikan PAUD NI,” katanya.
Dia berharap masyarakat dan pemerintah setempat menyambut baik komitmen PT Indomining. Betapapun, pendidikan adalah penting. “Program-program ini akan berlanjut jika para warga belajar sungguh-sungguh memanfaatkan momentum ini dengan baik, dan kerja sama semacam ini patut diteruskan dan ditingkatkan baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya.
Apa yang dilakukan PT Indomining ini, lanjutnya, patut dijadikan contoh oleh perusahaan-perusahaan yang juga perduli untuk ikut membantu menjadikan masyarakat lebih berbudaya dan mandiri. Menyinggung masih tingginya angka buta aksara di Kutai Kartanegara berdasarkan data BPPS tahun 2011 disebutkan sebanyak 18,555 jiwa .Tingginya angka itu disebabkan oleh beberapa factor yakni kurangnya kepedulian masyarakat tehadap pendidikan ( pendidikan dianggab kurang penting), Ekonomi yang kurang mampu dan, Factor Geografis, Transmigrasi yang dilakukan oleh Pemerintah dan Persun di Kukar sejalan dengan program Gerbang Raja maka semua stekholder yang ada memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan masyarakat hal ini dimaksudkan untuk percepatan pengentasan dan menjadikan Kutai Kartanegara Zona Bebas Buta Aksara di tahun 2015 (ZBBA).
Asisten Comdev PT Indomining Imam Masrur mengatakan kerja sama ini adalah wujud keperdulian PT Indomining terhadap masalah pendidikan dan komitmen untuk ikut ambil bagian dalam pengembangan masyarakat menuju kemandirian melalui pengembangan pendidikan melalui PKBM KH Dewantara Sangasanga . Kerja sama selanjutnya akan dituangkan dalam program-program yang lebih komprehensif konseptual dan menyentuh kebutuhan masyarakat akan pentingnya pengetahuan dan skill. “Diharapkan PKBM menjadi agen perubahan pola piker dan pengetahuan masyarakat ke arah yang lebih positif dan mandiri,” ujarnya.
Ditambahkan Penilik PAUDNI Sangasanga Bukhori menjelaskan kerjasama ini dimaksudkan untuk menyelenggarakan kegiatan penuntasan dan pemberantasan KF. “Jumlah peserta warga belajar Keaksaraan Fungsional di Kecamatan Sangasanga pada 2011 berjumlah 25 kelompok atau sebanyak 250 warga dengan menggunakan dana PT Indomining sebesaar Rp 703.280.000 dengan rincian program pemberantasan buta huruf Rp 281 juta, program paket Rp 200 juta, Rintisan PAUD Rp 81.780, pelatihan komputer bagi guru SD, SMP dan SMU Rp 100.500.000,- renopasi gedung PKBM KH Dewantara Sangasanga Rp40 juta, program beasiswa SI 6 orang sampai selesai. Adapun warga belajar terdiri dari Kelurahan Pendingin sebanayak 10 kelompok , Kelurahan Sangasanga Muara 11 Kelompok dan Masing masing kelurahan Sarijaya dan Kelurahan Jawa sebanayak 2 Kelompok,” jelasnya.
Dalam kegiatan pembukaan perdana warga belajar keaksaraan juga disaksikan Camat Sangasanga, Kapolsek, Danramil, Pengurus LPM Pendingin, Aparak Kelurahan, Fungsional PKBM Ki Hajar Dewantara, Mahasiswa KKN Unmul, Comdev Asisten PT Indomining, Penilik PAUDNI dan Tokoh Masyarakat lainnya.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Suyono on July 29, 2011 at 5:01 am
no comments

Pemparan oleh Team Teknis Direktorat Pendidikan Masyarakat Jakarta
Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara kembali menggelar TOT (Training Of Trainer) Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Non Formal & Informal selama 2 hari di Hotel Litzha Tenggarong, Kalimantan Timur. Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memberikan pembekalan bagi para calon Tutor Keaksaraan Fungsional serta Instruktur Kursus dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran dan Kursus dalam proses pembelajaran pendidikan non formal.
Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Kutai Kartanegara H. Fitriadi S.Sos M.M dalam sambutanya mengatakan kegiatan TOT ini merupakan bentuk nyata dari Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam upayanya memberantas buta aksara di Kab. Kutai Kartanegara. “Dengan diselengarakannya TOT Pendidik & Tenaga Kependidikan PNFI ini akan semankin mempertajam dan menguatakan SDM bagi tenaga pendidik non formal yang berada dilapangan sebagai ujung tombak pemberantasan Buta aksara di Kab. Kutai Kartanegara”
Sebab menurut Fitri angka buta aksara di Kab. Kutai Kartanegara yang tinggi sekitar 18.552 orang ini membutuhkan penanganan yang serius. Sehingga pembekalan calon tutor adalah langkah awal untuk mencetak Tutor-tutor keaksaraan fungsional lebih banyak lagi. “Dengan mencetak tutor-tutor baru maka ini akan semakin banyak warga belajar KF yang berada di daerah-daerah terpencil terpenuhi” tambah Fitri. Selain itu Fitri juga memaparkan mengapa angka buta aksara di Kukar cukup tinggi, menurut Fitri salah satu penyebabnya adalah adanya kultur budaya warga masyarakat di beberapa daerah pedalaman di Kukar yang masih menganggap pendidikan adalah hal yang tidak penting, sehingga ini memicu tingginya angka buta aksara itu sendiri. “Masih terbiasanya warga masyarakat yang mengandalkan SDA sebagai penopang hidup mereka membuat masyarakat kurang begitu mementingkan peningkatan SDM” ujar Fitri.
Dalam kegiatan kali ini dihadiri oleh sekitar 50 orang dari beberapa kecamatan yang ada di Kab. Kutai Kartanegara, seperti Kec. Kota Bangun, Anggana, Muara Jawa, Muara Kaman dan Tenggarong Seberang. Para calon tutor tersebut setelah dilatih diharapkan dapat mengaplikasikan ilmunya dilapangan yang juga akan disinergikan oleh program-program pemberantasan buta aksara yang ada di Kab. Kutai Kartanegara.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on July 13, 2011 at 12:17 am
no comments
TENGGARONG,Sebagai bentuk kesungguhan Kabupaten Kutai Kartanegara dalam upaya pemberantasan buta huruf, melalui Dianas Pendidikan Kabupaten mengadakan Sosialisasi Program Keaksaraan Fungsional dan Pelatihan untuk Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK PAUD NI ) Senin, (11/7) di Hotel Karya Tapian 2 Jl.Patin Tenggarong.
Sosialisasi yang diikuti sebanyak 70 orang dari unsur Penilik, Kepala UPTD-SKB Ketua PKBM,TLD Tim Penggerak PKK, Mahasiswa dan undangan lainnya dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara yang diwakili oleh Kasubid PAUD NI dan Kejuruan H.Bahransyah,SE,MSi mengungkapkan bahwa program keaksaraan fungsional adalah program Nasional atau pemerintah,sehingga harus didukung oleh seluruh elemen masyarakat,baik di kota maupun pedesaan di seluruh nusantara dan pemberantasan buta huruf dikaitkan dengan peran dan pekerjaan mereka di masyarakat.
Pemerintah Kukar kata Bahransyah bertekad akan menekan angka buta aksara di Kutai Kartanegara . Sampai dengan tahun 2015, ia berharap dapat menekan angka buta aksara sebanyak 0,5 sampai 1 persen. Menurutnya, keaksaraan tidak sebatas dapat membantu kehidupan atau meningkatkan kualitas hidup seseorang secara pribadi, tetapi dapat pula meningkatkan peradaban bangsa.
“Upaya menuntaskan buta aksara merupakan investasi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Bahransyah
Kabupaten Kutai Kartanegara berdasarkan data statistik penyandang buta aksara yang paling tinggi di Kalimantan Timur,tahun 2005,penyandang buta aksara sebanyak 26.748 jiwa (usia produktif usia 15-55 tahun) di Kutai Kartanegara sendiri diprioritaskan pada usia produktif tahun 2005 sebanyak 130 orang,tahun 2006 sebanyak 1.920 orang,tahun 2007 sebanyak 1.560 orang dan tahun 2008 sebanyak 540 orang.Rentang waktu hingga tahun 2011 mencapai 18.555 jiwa dengan demikian ada peningkatan dari tahun sebelumnya.
Bahransyah menambahkan naiknya angka ini ada beberapa penyebab antara lain Budaya masyarakat beranggapan pendidikan dianggap kurang penting,lebih baik bekerja,selanjutnya factor social ekonomi (keminkinan), factor gengsi (menutup diri ) dan factor geografis (kondisi alam sulit terjangkau oleh layanan pendidikan dan nterisolisir terutama mereka yang mengikuti program Transmigrasi.
keaksaraan merupakan pintu komunikasi sosial, komunikasi budaya dan ekonomi, yang sangat berhubungan erat dengan tingkat kesejahteraan dan kesehatan. Meski begitu, ia menyadari akan menemukan banyak kesulitan dalam pelaksanaannya, terlebih ketika mengajak para orangtua secara aktif.
“Pendekatannya tidak semata-mata baca tulis dan berhitung. Tetapi, pendekatan yang akan dilakukan adalah mengaitkan keaksaraan itu dengan aktivitas ekonomi dan kehidupan sosial. Sehingga mereka jadi tertarik. Melalui keaksaraan, kami ingin mengembangkan keberdayaan perempuan secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Admin Blog on January 27, 2011 at 12:28 pm
no comments

“Dengan jumlah buta aksara pada tahun 2009 sekitar 13.416 jiwa, Bupati Kutai Kartanegara optimis 4 tahun kedepan Kutai Kartanegara akan bebas dari buta aksara”. Demikian diungkapkan Bupari Kutai Kartanegara, Rita Widyasari pada acara Gebyar Keaksaraan Fungsional 2011 di Gedung Sandisa Kecamatan Sanga-sanga Rabu (26/01). Menurut Rita perhitungan tersebut sangat rasional berhubung saat ini Pemerintah Kutai Kartanegara lagi menggalakkan pemberantasan buta aksara secara besar-besaran di Kutai Kartanegara, dan hal itu termasuk dalam salah satu program yang menjadi misi dalam kepemimpinannya yaitu menjadikan Kukar menjadi Zona Bebas Buta Aksara (ZBBA).
“Saya sangat berharap Kutai Kartanegara dalam 4 tahun mendatang telah bebas dari buta aksara, karena saya memiliki program Zona Bebas Buta Aksara (ZBBA)” ungkap Rita. Pada tahun 2011 ini pemerintah kabupaten kutai kartanegara melalui dana APBD mengalokasikan dana sebesar 1,5 Milyar untuk mewujudkan Kutai Kartanegara bebas buta aksara. Karena itu ia minta agar program pendidikan keaksaraan, bukan hanya sekedar wacana semata namun harus diwujudkan dengan tindakan konkrit.
Berdasarkan data biro pusat statistik Juni tahun 2008 menunjukkan, jumlah buta aksara di Kukarmencapai 18.317 orang. Di tahun 2009 menjadi 13.416 orang dan Inilah tantangan yang mesti dihadapi melalui berbagai kegiatan yang mampu merubah kondisi yang ada sehingga kebutaaksaraan bisa dikurangi dan dihapuskan khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara ditahun mendatang.
“Mari bulatkan tekad, mantapkan tujuan, dan bersama-sama kita wujudkan Kutai Kartanegara bebas buta aksara”tambahnya.
Filed under Keaksaraan Fungsional by Bukhori on August 31, 2010 at 9:26 am
no comments
Tenggarong – Tingginya jumlah warga penderita buta aksara membuat Pemerintah Kutai Kartanegara terus berupaya mencari solusi memerangi buta aksara. Salahsatu caranya adalah dengan memberdayakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Demikian disampaikan Kadis.Pendidikan Melalui Kabid.PNFI,paud dan kejuruan H.Bahransyah,SE.M.Si pada acara pembukaan belajar perdana warga belajar Keaksaraan dan Kesetaraan PKBM Putri Karang Melenu ( PKM ) Kecamatan Loa Kulu Senin (30/8).
Menurut data yang diperoleh Dinas Pendidikan ( Kasubag.PNFI ) Kutai Karetanegara H.Bahransyah,SE.M.Si menyebutkan, pada tahun 2006 jumlah penduduk buta aksara sebanyak 22,272 jiwa, diantaranya merupakan warga yang belum mampu melakukan baca tulis “melek aksara” . tetapi Jumlah tersebut menurun jika dibanding tahun 2010 yang mencapai 14.416 orang. Namun, hal ini tidak lantas membuat Pemkab Kukar berpuas diri.
Lebih lanjut, Bahransyah mengatakan, melaui.Beberapa model inovasi untuk mempercepat pemberantasan buta aksara antara lain melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang mensyaratkan calon pesertanya harus bisa baca tulis, melalui pembelajaran mikro (seperti iqra dalam bahasa latin), dalam bentuk permainan karakter dan angka, reach the unreach, dan menjangkau masyarakat adat. “Model inovasi ini akan menurunkan angka buta huruf, ” katanya.
Sayangnya, lanjut Bahransyah , hingga saat ini, pihaknya masih terkendala dengan minimnya Lembaga Pusat Kegiatan belajar Masyarakat ( PKBM ). Bahransyah merincikan , saat ini di Kutai Kartanegara baru terdapat 9 PKBM , yang tersebar PKBM Putri Karang Melenu yang ada di wilayah kecamatan Loa Kulu. di usia yang relatif muda namun kegiatannya cukup banyak sehingga PKBM PKM ini dapat dijadikan sebagai barometer PKBM yang ada di Kutai kartanegara.,” jelas Bahransyah.
Meski begitu, Bahransyah menegaskan, pihaknya tidak akan menyerah begitu saja dalam memerangi buta aksara di Kutai . ” kita juga akan melakukan pendekatan kepada warga yang masih tergolong buta aksara. Dengan begitu diharapkan mampu menekan jumlah penderita buta aksara di kutai Kartanegara,” tandasnya.
Diknas terus Kukar berupaya mempertegas keakuratan data penduduk buta aksara melalui kerja sama dengan semua pihak termasuk para Rukun tetangga ,mengingat Rt mengetahui persais kondisi warganya.
“Kami ingin memetakan lokasi sasaran program Gerakan Nasional Percepatan Pemberantasan Buta Aksara (GNP-PBA) sesuai dengan Inpres No. 5 Tahun 2006. Keakuratan data berpengaruh pada pemetaan lokasi sehingga penyelenggaraan dan pelaksanaan PBA di lapangan, yang diharapkan dapat semakin fokus dan optimal, ” ujarnya.
Pembukaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan yang berlangsung penuh keakrapan dan kekluargaan itu dihadiri pula Kapala Cabang Dinas Pendidikan yang diwakili Koordinator Pengawas ,Koramil Loakulu Kapten Infantre Eko Edy.S, Kepala Desa Loakulu kota ,Tokoh masyarakat, para tutor dan undangan lainnya.
Acara diakhiri dengan penyerahan papan nama,buku dan seperangkat alat tulis kelompok belajar oleh Kabid H.bahransyah kepada penyelenggara dan tutor sebagai tanda dimulainya kegiatan belajar mengajar ,selain itu deriktur PKBM PKM Syaful Anwar menyerahkan bantuan sejumlah uang kepada pengurus Musholla Al-Ikhlas dan bingkisan lebaran untuk para tutor “ uang ini kami peroleh dari sumbangan para tutor,sebagian honor mereka disisihkan untuk Musholla Al-Ikhlas itung –itung ini bulan Ramadhan “
Komentar Terbaru