1.248 siswa ikuti Ujian Program Paket C

TENGGARONG – Sejumlah 1.248  peserta Belajar Kesetaraan di Kutai Kartanegara (Kukar) mengikuti Ujian Nasional Program Paket (UNPP) 11 hingga 14 Oktober 2011. Ratusan siswa tersebut berada di bawah asuhan Pusat Kegiatan Belajar ( PKBM ) yang tersebar di 18 kecamatan. Mayoritas warga belajar berasal dari Program Kesetaraan Paket Pendidikan Non-Formal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Kartanegara DR Hermawan melalui Kasubid PNFI Syaiful Anwar mengatakan, para siswa dari 18 Kecamtan Kukar tersebut akan mengikuti Ujian Nasional Program Paket A,B dan C periode kedua tahun 2011. Periode pertama telah digelar Juli lalu.
Dia menambahkan, peserta UNPP periode pertama 2011 berjumlah 1.673 siswa yang masing-masing berasal dari program reguler terdiri dari 199 paket A, 480 paket B dan 994 paket C. Sementara untuk periode kedua tahun 2011 peserta UNPP berjumlah 1.248 siswa, dengan rincian paket A 164 siswa yang 63 di antaranya siswa wanita, paket B berjumlah 362 siswa   dan peserta paket C setara SMA jumlah peserta 722 siswa.
Menurut Syaiful, tidak ada perbedaan antara ijazah paket dengan ijazah yang diperoleh melalui ujian formal. “Yang membedakan hanya tanda tangan pada ijazah. Kalau ijazah paket ditandatangani kepala dinas kabupaten/kota masing-masing, sementara ijazah formal ditandatangani kepala sekolah,” ujar Syaiful kemarin di Tenggarong.
Dia berharap warga belajar lulus 100 persen dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. “Inilah yang kita harapkan ke depannya. Warga belajar bisa lulus 100 persen. Minimal warga belajar sudah memiliki ijazah dan ilmu sesuai dengan tingkatannya,” demikian harapnya.

1.673 Orang di Kukar Ikuti UN Pendidikan Kesetaraan

TENGGARONG, Hari pertama pelaksaan Ujian Nasional Pendidikan Kesetararaan (UNPK) priode pertama Tahun 2011 di Kabupaten Kutai Kartanegara , berjalan lancar. Dari jumlah peserta sebanyak 1673  siswa ,dengan rincian peserta paket C sebanayak 994 siswa,paket B sebanayak 480 siswa dan peserta paket A sebanyak 199 siswa, peserta Paket C yang terlebih dahulu digelar pelaksanaan Selasa tanggal 05 kemarin  sd 08 Juli 2011. Sedangkan peserta Paket A,B akan diaksanakan pada tanggal 12 s/d 15 Juli mendatang.

Di Kabupaten Kutai Kartanegara  pelaksanaan UN Paket C tersebar di 14  lokasi  yakni kecamatan Tenggarong ,Tenggarong Sebrang, Loa Kulu,Loa Janan,Samboja,Muara Jawa ,Sangasanga,Anggana,Marang Kayu,Kota Bangun,Muara Kaman,Muara Muntai, Kenohan, dan kecamatan Kembang Janggut. Dibandingkan priode kedua yang berlangsung pada bulan September 2010 lalu jumlah peserta kali ini mengalami peningkatan.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kabupaten Kutai Kartanegara, DR.Ir Hermawan,M.Si  yang didamping  Kabid PAUD NI & Kejuruan H.Bahransyah dan Kasubid PNFI Saipul Anwar  Selasa (05/7) mengatakan, hari pertama pelaksanaan peserta ujian kesetaraan di Kutai Kartanegara berjalan lancar, tidak ada kendala sama sekali.

Hari pertama  yang diujikan, adalah mata pelajaran PPKN dan Bahasa Inggris. Hari kedua, mata pelajaran yang diujikan Sosiologi dan Geografi, dan Kimia,  hari ke-3 Bahasa Indonesia dan Ekonomi. “ terang Hermawan

Dikatakanya di Kutai Kartanegara , jumlah peserta yang mendaftar sebagai peserta UNPK Paket C tahap pertama 2011, berjumlah 994 peserta. Jumlah itu hanya  kelompok IPS
Menurut Hermawan, peserta yang mengikuti ujian kesetaraan ini kebanyakan dari anak-anak yang kurang beruntung. Baik kekurangan dari dampak ekonomi maupun pengetahuan. Karena kebanyakan dari mereka yang ikut pada umumnya sudah ada yang bekerja diperusahaan  dan industri, boleh jadi ikut sertanya para siswa UNPK ini bias meningkatkan SDM, Tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang bercita-cita untuk melanjutkan kuliah ,bahkan menjadi anggota dewan. Itu sah-sah saja,kata Hermawan.

Dari segi kwalitas kelulusan diharapkan ada peningkatan,dan memiliki tanggung jawab yang lebih tinggi untuk itu diharapkan peserta UNPK paket C ini, jika lulus nanti jangan beranggapan ijazah paket C tidak berguna, tetapi ijazah paket (C ,B dan A ) manfaat dan kegunaannya sama dengan ijazah UN pendidikan Formal , dan dapat digunakan untuk melanjutkan kejenjang pendidikan yang lebih tinggi, maupun untuk mencari kerja

Ditambahkannya, standar soal yang diujikan kepada peserta UNPK Paket C sama halnya dengan UN formal. Hanya saja saat pelaksaannya tidak melibatkan Tim Pemantau Independen. Namun demikian, pengawasan tetap ketat “Berdasarkan laporan Tim yang kami sebar ditempat pelaksanaan dilaporkan peserta dilarang membawa Hend phon pada saat mengerjalkan Soal,Tim kami tidak boleh masuk hanya mengontrol dari pintu kelas saja, tuturnya.

Pendidikan Kesetaraan Luar Sekolah Topang Wajib Belajar

TENGGARONG- Pendidikan kesetaraan luar sekolah yang dikelola pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) tersebar di 18 kecamatan Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi penopang program wajib belajar sembilan tahun.

Kepala Sub Bidang PNFI Kabupaten Kutai Kartanegara Saipul Anwar Senin,(9/5) saat pertemuan dengan Ketua PKBM se-Kukar bertempat di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jambentong ,  mengatakan pendidikan luar sekolah lewat pendidikan kesetaraan paket A (setara SD), paket B(setara SMP) serta paket C (setara SMA) merupakan bagian tak terpisahkan dari pendidikan formal.

“Pasal 13 Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional mengatur tiga jalur pendidikan yakni formal (sekolah) ,non formal (luar sekolah) serta informal (dirumah),” ucap Saipul Anwar

Ia mengakui, selama ini peran keberadaan pendidikan non formal dikelola PKBM maupu Sanggar Kegiatan Belajar telah memberikan kontribusi nyata dalam mendukung program wajib belajar sembilan tahun di kabupaten Kutai Kartanegara melalui pendidikan kesetaraan paket A,B dan paket C.

Warga belajar yang mengikuti pendidikan kesetaraan, lanjut Saipul, berdasarknya kenyataan saat ini, pesertanya tak mengenal usia, berlatar belakang masyarakat kurang mampu secara ekonomi serta siswa yang pernah sekolah tetapi putus di tengah jalan akibat berbagai persoalan.

“Melalui pendidikan non formal program kesetaraan diharapkan membuka akses warga belajar untuk bisa bersekolah guna mendapatkan ijazah kelulusan yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan formal,”ujar Saipul

Ke depan, menurut kepala Subid, program pendidikan kesetaraan harus diakomodasikan dalam rencana strategis sektor pendidikan sehingga perlakuan dan perhatian pemerintah kabupaten tetap sama dengan pendidikan formal.

“Hingga berapa tahun mendatang kehadiran pendidikan kesetaraan se- Kkukar masih sangat dibutuhkan keberadaannya di masyarakat mengingat kondisi wilayah geografis , pelosok kampung/desa yang jauh tak terjangkau dengan pendidikan formal,” harap Saipul.

Ia mengakui, PKBM sebagai salah satu institusi penyelenggara pendidikan non formal akan terus berkomitmen berupaya meningkatkan mutu pendidikan luar sekolah.

“Program pendidikan luar sekolah dikelola PKBM sangat menyentuh kebutuhan warga belajar, ya terutama kalangan pemuda di berbagai Kecamatan dan desa/kelurahan,” kata kepala subid PNFI

Tutor dan Penyelenggara PNFI Dilatih KTSP

Picture: Peserta Workshop dengan karyanya

Para tutor dan pengelola program Paud keseteraan Paket A,B dsn C serta tutor Keaksaraan  dari tiga Kecamatan Samboja,Muara Jawa dan Sangasanga , Sabtu ( 04/12 ) mengikuti pelatihan (workshop) kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) di Gedung PKBM Al-Irsyat Muara Jawa Kutai Kartanegara . Pelatihan yang diikuti sekitar 50 orang tutor dan pengelola program kesetaraan dibuka Kepala Bidang PNFI Paud dan Kejuruan diknas Kukar H.Bahransyah SE MSi.

Ketua Panitia Workshop KTSP, Baharuddin Pasilo , mengatakan, pelatihan ini dimaksud untuk memberikan pemahaman kepada para tutor, pengelola program kesetaraan Paket serta Keaksaraan  di tiga kecamatan  tentang model silabus dan RPP dalam rangka pengembangan kurikulum dan bahan ajar pendidikan non-formal. Tujuan dari pelatihan ini, tambah Baharuddin Pasilo ., untuk mengembangkan kemampuan tutor dalam perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran.

Lebih dari tujuan itu, untuk menyamakan persepsi peserta tentang penyusunan KTSP Pendidikan Kesetaraan, menyusun silabus dan RPP Pendidikan Kesetaraan. ‘’Dari pelatihan ini, kami harapkan para tutor memiliki kemampuan yang lebih terbuka dalam mengembangkan paragraph pembelajaran sesuai dengan lingkungan peserta didik kesetaraan,’’ ujar Pasilo

Drs Baharuddin Pasilo . yang juga Direktur Pusat Kegiatan Belajat Masyarakat (PKBM) Al –Irsyad  ini menambahkan, workshop diselenggarakan selama satu hari. Materi yang diberikan pada workshop ini meliputi, pengembangan indikator dan pengembangan silabus. Pendidikan Non Formal , dan Kesetaraan Gender . Workshop ini menampilkan nara sumber Ketua Forum PKBM Kalimantan Timur  Drs. Umar Akhmad ,Drs. Teguh MPd Ketua Forum Pamong Belajar Kalimantan Timur ,Ida Wahyu Sayekti Kepala UPTD-SKB Tenggarong Sebrang dan H.Bahransyah SE MSi Kabid PNFI Dikdik Kab.Kutai Kartanegara.
Ditempat yang sama dilaksanakan Lomba Karya kreatif Tutor Paud pembuatan Alat Permainan Edukatif ( APE ) , Mading diperuntukkan pesaerta didik Paud dan lomba pembuatan naskah ceraita anak Paud.

Kadiadik Kutai Kartanegara Drs HM Hardi MM .dalam sambutan pembukaan yang disampaikan Kabid PNFI H Baheansyah SE MSi , memberi apresiasi positif diselenggarakannya workshop KTSP untuk para tutor dan pengelola Paud program keseteraan dan Kesetaraan yang digagas oleh PKBM Al-Irsyad Kecamtan Muara Jawa ini Drs. HM Hatdi MM . mengungkapkan, pendidikan kesetaraan dan keaksaraan merupakan bagian dari pendidikan non-formal dimana mutu lulusannya memiliki hak higibilitas yang sama atau sudah diseterakan dengan pendidikan formal. Sebagai esksistensi dari hal tersebut, maka perlu peningkatan mutu program pendidikan keseteraan diupayakan secara berkelanjutan berdasarkan standar isi, standar proses dan standar penilaian. Dari hasil pelatihan ini dapat menghasilkan/mereview KTSP.

Belajar Tanpa Sekolah

Picture: Belajar sambil bermain

Mari kita buka mata. Ini nyata, hanya di Indonesia. Negara yang birokrasinya super lama. Negara yang penduduk miskinnya makin banyak. Negara yang orang bunuh dirinya rata-rata lima orang setiap harinya. Negara yang kriminalitas dan tindakan asusila mulai merambah kemana-mana. Negara yang, padahal belum maju, tapi mulai memundur. Ini Indonesia.

Indonesia, dari segala aspek, ekonomi, politik, sosial, budaya, hankam, dan yang lainnya, memiliki banyak masalah. Masalah ini disebabkan oleh dua hal besar, kelemahan sistem dan kelemahan manusianya. Tapi dua hal ini bisa kita kerucutkan lagi menjadi satu masalah: kelemahan manusia, karena sistem juga di buat manusia. Kelemahan-kelemahan manusia ini adalah hasil dari akumulasi kesalahan sebuah sistem pada satu aspek kehidupan yaitu  pendidikan. Masalah utama kita adalah lemahnya sistem pendidikan.

Terdapat satu tawaran dunia yang mulai maju akhir-akhir ini meskipun sebenarnya telah lebih dulu lahirnya. Pendidikan non-formal menjadi satu dari banyak solusi dari permasalahan pokok di atas. Tawaran-tawaran Pendidikan non-formal ini ternyata telah terbukti turut memberi kontribusi pada negara sebagai langkah solutif.

Diadakannya jurusan Pendidikan Nonformal pada perkuliahan di Tanah air, ini menjadi tapak awal perjuangan pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal yang selanjutnya disebut pendidikan luar sekolah inilah yang menjadi minat bagi mereka yang terbilang pandai mencari peluang untuk dapat diterima pada Universitas/ Perguruan Tinggi, disebabkan peminat dan kuota yang sangat minim. Ini mungkin  terjadi hanya pada beberapa mahasiswa. Beberapa dari mereka lainnya telah mempunyai motivasi dari orang-orang terdekat yang boleh dikata telah mengerti apa itu pendidikan luar sekolah.

Terlepas dari latar belakang apapun mahasiswa bisa berada pada jurusan itu, mereka mempunyai tantangan yang sangat berat. Akal dan mental mereka akan dikejjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan dadri mereka-mereka yang kurang tahu atau bahkan tidak tahu sama sekali mengenai PLS. Berat memang, namun tak harus menunggu 3 atau 4 tahun untuk dapat mennjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Di perkuliahan PLS-lah mereka akan tahu.

Mahasiswa-mahasiswa PLS inilah yang akan digembleng untuk menjadi Pemberdaya Masyarakat, merekalah yang akan merangkul kaum-kaum lapisan menengah ke bawah yang selama ini kurang dipandang dengan dua bola mata penuh, mereka jugalah yang akan menciptakan banyak pekerja bukan pengemis lowongan pekerjaan.

Harapan terbesar dari penulis pribadi adalah sebuah keberhasilan dalam merelasikan tiga unsur vital demi terciptanya kesejahteraan yang diimpikan. Tiga unsur itu yakni manajer, warga belajar dan pemilik dana. Hal itu dapat dikatakan sebagai inti dari program Pendidikan Luar Sekolah. Meskipun butuh usaha besar untuk hal itu, penulis menilai itu sebagai impian bukan mimpi.

Sebuah konsep yang ingin sekali penulis tawarkan adalah konsep mengenai perangkulan kaum-kaum kurang beruntung pada umumnya dan anak-anak korban eksploitasi pada khususnya pada rangkulan edukasi dunia. Mereka  anak-anak yang terpaksa hidup di keliling sampah dan mereka yang semata-mata terjerumus dalam gank-gank yang kurang berorientasi positif pada kehidupan. Siapa yang akan merangkul mereka ? PLS bisa! Sangat bisa !

Konsep itu berupa kesatuan kegiatan yang akan menjadi tempat mereka belajar, berlatih, dan menngembangkan diri demi tercapainya tujuan hidup mereka masing-masing. Penulis di dalam hal ini akanm membawa sebuah kalimat yang berkarakter atau lebih dikenal dengan slogan yaitu “BELAJAR TANPA SEKOLAH”. Sungguh inilah impian penulis sebagai mahasiswa PLS UNNES 2010. Konsep ini nantinya akan sangat membutuhkan stake holders yang tak sedikit. Penulis perlu memilih mitra yang suitable (cocok) untuk konsep program tersebut.

“BELAJAR TANPA SEKOLAH”, penulis inginkan karena kosakata sekolah rupanya kian membuat jarak bagi dua kaum penikmat dan kaum melarat. Sekolah dijadikan sebagai kebanggaan yang dapat dikiaskan bahwa “pendidikan hanya dinikmati oleh mereka kaum ekonomi baik/ kaum konglomerat”. Kaum konglomerat terus bersekolah dengan segudang uangnya sedang kaum melarat terus meratap menatap mimpi dengan segudang bebannya. Terlepas dari kata “sekolah” penulis ingin mereka belajar artinya mereka belajar tanpa bersekolah.

“BELAJAR TANPA SEKOLAH”, ini merupakan kesatuan kegiatan yang diharapkan dapat dinikmati oleh seluruh mereka yang tergolong kurang beruntung. Dengan pendekatan-pendekatan progresiv tentunya konsep ini tidak mustahil untuk diwujudkan. Keterlibatan Negara dalam hal inipun sangat dibutuhkan untuk dapat bersama memberikan inspirasi dalam pengembangan “BELAJAR TANPA SEKOLAH” ini.

Follow up dari harapan awal tadi adalah terwujudnya tenga-tenaga trampil terdidik yang mumpuni / mampu untuk mengembangkan ketrampilannya pada masyarakat luas. Seiring itu mereka akan menuju pada penciptaan lapangan kerja sehingga mengurangi angka pengemis lowongan kerja di Tanah air.

Ditulis Oleh : Dewi Erni Logananta
Email :   dwlogananta4@gmail.com
Mahasisi Jurusan PLS  UNNES

Tips Menulis

Komunitas Facebookers LSB

Iklan

Link Pendidikan Luar Sekolah

Juga Guru Juga Guru Info Kursus