PKBM Bina Bersama kecamatan Samboja terus berupaya dalam mensukseskan pemberantasan buta aksara di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sebagaimana yang diharapkan Bupati Kukar Rita Widyasari melalui program Kukar sebagai Zona Bebas Aksara. Hal tersebut dikatakan Ketua PKBM Bina Bersama Samboja Abdurahman dalam acara Pencanangan Kegiatan pendidikan KF di Kelurahan Desa Karya Jaya baru-baru ini di Samboja. Menurut Abdurahman, pelaksanaan pendidikan Keaksaraan Fungsional (KF) 2011 dilaksanakan di 5 Kelurahan dan Desa, yaitu Kelurahan Sanipah, Teluk Pemedas , Kuala Samboja, Tanjung Harapan dan Desa Karya Jaya. Terdiri dari 56 kelompok belajar 30 kelompok KF Dasar dan 26 KF Mandiri/KUM/KF. “KF Dasar adalah kelompok awal belajar KF,dengan kurikulum sederhana yaitu Calistung. mereka diajari untuk mengenal huruf (ABC hingga Z), agar bisa membaca dan menulis (calis) dan mereka juga diajari mengenal angka agar bisa menyebut angka dan menuliskannya,dan akhirnya dapat berhitung, sehingga setelah selesai KF dasar mereka diharapkan bisa membaca, menulis dan berhitung atau Calistung,” katanya. Adapun KF Mandiri, bagi yang sudah selesai KF Darsar, mendapat lanjutan pelajaran Calistung, supaya lebih lancar dan tidak melupakan pelajaran sudah didapat, dan diberi tambahan pendidikan ketrampilan. Misalnya mencontohkan, 2 atau 3 minggu belajar Calistung, minggu berikutnya diselingi belajar ketrampilan, misalnya bagaimana membuat ABON dari Ikan, membuat Selai dari Nenas , atau membuat susu dari Kedelai dll, pelajaran ketrampilan ini diajar kan secara kontektual artinya diberikan sesuai petensi yg ada didaerahnya. “Kegiatan pendidikan KF ini guru guru nya telah kami persiapkan dengan mengikuti Diklat. Ada 9 Tutor saat ini sedang diklat di Samarinda yg dilaksanakan oleh Provinsi. Dan 3 tutor lainnya diklat di Muara Jawa. Kami juga bekerja sama degan mahasiswa yang sedang KKN, yaitu mahasiswa STAI Balikpapan yang kebetulan KKN di desa Karja Jaya ini,” ujarnya. Saya bersama pengurus PKBM Bina Bersama Samboja, dan semua tutor berharap semoga program ini berjalan lancar dan sukses, sebagaimana harapan Bupati Kukar dengan program Kutai Kartanegara Sebagai Zona Bebas Buta Aksara. Tentunya program ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar, atas bantuan semua pihak terutama peran aktip kecamatan, Lurah dan Kepala Desa serta semua warga kelurahan dan desa yang ada dikecamatan Samboja ini. katanya. Ditambahkannya, PKBM Bina Bersama Samboja diberi amanah oleh pemerintah untuk melaksanakan pedidikan KF yang mencakup disemua Kelurahan dan Desa di Kecamatan Samboja. Setiap kegiatan selalu melibatkan pihak kelurahan untuk sosialisasi pembelajaran KF dan dilanjutkan membagikan tas, buku dan alat tulis untuk tutor dan warga belajar. “Dengan harapan pihak kelurahan atau desa, dapat mengarahkan masyarakat supaya dapat belajar aktif pada kelompok yang sudah ditentukan, dan agar suksesnya program penuntasan pemberantasan buta aksara di Kukar,”harapnya. Adapun yang hadir dalam kegiatan itu Dinas Pendidikan Kukar diwakilkan Kabid PNFI, Paud dan Kejuruan H Bahransyah, Kasubbid PNFI Saiful Anwar, Camat Samboja diwakili sekcam, Koramil dan Kapolsek Samboja, UPT Dinas Pendidikan, Lurah, Kades serta tokoh masyarakat lainnya
PKBM Bina Bersama Samboja Brantas Buta Aksara
PKBM Kukar Semarakkan Kaltim Education Expo
TENGGARONG-Ada kebanggaan tersendiri bagi Dinas Pendidikan (Disdik) Kab. Kutai Kartanegara terutama yang membidangi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) atau Pendidikan Non-Formal Informal (PNFI), karena keikutsertaannya PKBM Putri Karang Melenu Kecamatan Loa Kulu pimpinan Syaiful S.Pd dalam pameran pada peringatan Hari Pendidikan Nasional Tingkat Propinsi Kalimantan Timur yang berlangsung selama satu pekan di Stadion Sempaja Samarinda
Dikatakan Saipul Anwar, S.Pd selaku ketua PKBM Putri Karang Melenu, keikutsertaan memeriahkan pameran Kaltim Educasi Exspo 2011 berkat dukungan semua pihak. Terutama dari Dinas Pendidikan Kutai Kartanegara ( Kabid PNFI ). Dan tidak letinggalan didukung oleh Warga Belajar Termasuk ibu-ibu Pengrajin, pemuda, dan Pengurus PKBM Putri Karang Melenu lainnya.
“Pada pameran Kaltim Educasi Exspo itu, kami menampilkan berbagai keberhasilan program kerja PKBM Putri Karang Melenu yang dilakukan selama ini, terutama program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C, hasil karya para peserta didik dari mulai Songkok khas Kutai Kartanegara ,Pengolahan Limbah Kaca ,Pembuatan Pupuk Non Organik dan karya kerajinan lainnya,” ujar Saipul Anwar.
“Hal yang menggembirakan, karena stan PKBM Putri Karang Melenu dengan petak berukuran 4 x 4 meter dirancang sedemikian rupa itu sempat menarik perhatian para pengunjung hingga mengunjungi, dan sempat berdialog dengan kami,”jelas Saipul Anwar
“Pada pameran kali ini kami sengaja menampilkan produk lokal daerah,ini semua dimaksudkan untuk melestarikan budaya lokal juga contohnya sogkok khas daerah kutai,dan ternyata cukup diminati oleh pengunjung” dan yang menjadi perhatian khusus bagi pengunjung adalah Kompos Buatan ( Pupuk Non Organuk ) dengan bahan baku sampah “ kami juga sudah melakukan pembicaraan dengan Inves Pengembang Kelapa sawit yang berada di Kalimantan Timur ke depan dari pengembang ada keinginan kerja sama dalam bentuk pengadaan Pupuk Non Organik.
”Diharapkan PKBM Putri Karang Melenu bisa ikut andil memajukan kampong dan daerah dimana kami berada. Bisa memberikan yang terbaik dan kedepan lebih maju. Membina warga, ibu-ibu rumah tangga kelompok –kelompok usaha dan pemuda agar bisa lebih kreatif,’’ harap Saipul Anwar.
Sementara itu, Kabid Pendidikan Non Formal dan Informal Kemendiknas Kutai Kartanegara , H.Bahransyah SE.MSi Melalui Hand Pon menjelaskan, bahwa saat ini keberadaan PKBM Putri Karang Melenu perkembangannya sangat pesat, dan keikut sertaan dalam program pemerintah yang dilakukan cukup banyak diantaranya adalah pemberantasan buta aksara. Pendidikan kesetaraan ,pelatihan kecakapan hidup dan lainnya.” Melalui PKBM inilah nantinya kesenjangan sosial yang ada di masyarakat dapat diminimalisir “ kata Bahransayah.
Menyinggung tentang keberadaan PKBM di Kutai Kartanegara, H.Bahransyah mengatakan,perkembangannya sangat pesat akhir tahun 2010 hanya 3 PKBM dan sampai Akhir April 2011 di Kutai Kartanegara sudah ada 16 PKBM yang memiliki izin operasional dan Nomor Indul Lembaga (Nilem ) “ Idialnya setiap kecmatan satu PKBM “ katanya
PKBM Di Kukar Berkembang Pesat
Perkembangan lembaga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kabupaten Kutai Kartanegara, saat ini tumbuh sedemikian pesat. Hal ini disebabkan lembaga PKBM dalam rangka usaha meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi dan bakat warga masyarakat yang bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan program bagi warga belajar dengan menggali dan memanfaatkan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam yang ada di lingkungannya sebagi upaya terciptanya kegiatan pendidikan non formal seperti life skill, Kejar Paket A, B, dan C, termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang dibentuk dari,oleh dan untuk masyarakat
Di Katakan Kasubid PNFI Disdik Kukar Saipul Anwar belum lama ini, Keberadaan PKBM sebagai salah satu wadah kegiatan PNF Dalam perkembangannya, di Kabupaten Kutai Kartanegara PKBM tumbuh subur dan sudah mulai kelihatan perlombaan di masyarakat untuk membentuk PKBM awal tahun 2011 bahwa baru terbentuk 3 lembaga PKBM yang memiliki nomor ijin lembaga (Nilem) pada awal bulan April 2011 telah terbentuk sebanyak 13 lembaga PKBM yang tersebar di sejumlah tempat strategis di wilayah zona hulu tengah dan zona pesisir,hal ini karena masyarakat telah merasakan manfaat dari kinerja PKBM.
“Namun harus diingat, kiprah PKBM jangan hanya terlihat menonjol karena ikut-ikutan saja. Wadah ini mesti dimanfaatkan setiap waktu. Jangan sekadar melihat momentum tertentu saja,” kata Saipul. “Baik belajar kesetaraan Paket A, B, maupun C, mempertajam program PAUD, serta tempat belajar berbagai macam keterampilan (life skill), yang dapat dipakai sebagai bekal masyarakat dalam menempuh kehidupannya,” ujarnya.
Saipul menegaskan, keberadaan PKBM sekarang ini jangan dianggap remeh, apalagi diperlakukan secara tidak profesional. Para pelaku pendidikan di sektor non formal tersebut harus bersungguh-sungguh memperhatikan hal itu, sehingga ke depan PKBM bukan sekadar terpatri di papan nama saja, tetapi juga di hati masyarakat.
Keberadaan PKBM sendiri, ujar Saipul , sudah diakui dalam Undang-Undan Nomor 20 tahun 2001(UU) tentang Sisdiknas. Tinggal sekarang, semuanya tergantung kepada para pelaku bidang PNFI , mampu apa tidak melaksanakan semuanya. Artinya mampu membelajarkan masyarakat yang membutuhkan melalui PKBM-PKBM yang ada.
“Kalau orang sudah sanggup menjadi pelaksana PKBM, hendaknya tidak lagi menganggap seolah-olah lembaga tersebut ada hanya karena memperoleh proyek. Bila orientasi PKBM hanya seperti itu, maka jangan harap akan berkembang lebih baik,” ujarnya.
Dikemukakan, agar perkembangan PKBM di Kabupaten Kutai Kartanegara seiring dengan grend “ Gerbang Raja “ PKBM semakin mantap, maka masing-masing PKBM harus mampu membuat unit usaha atau produksi guna menunjang kehidupannya. Sebab PKBM sendiri tidak mungkin hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah saja. Para pengelola seyogyanya bisa bersikap aktif dan kreatif dalam menjalankan roda organisasinya, dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang ada di lingkungan masing-masing.
“Seperti PKBM KH Dewantara Sangasanga yang usianya baru seumur jagung tetapi program PNFI dijalankan dengan baik tidak selalu menggantungkan dana dari pemerintah ,melainkan bekerja sama dan dipercaya dengan perusahaan yang beropesasi di sekitarnya “ saipul mencontohkan
Untuk Kabupaten Kutai Kartanegara kecamatan yang telah memiliki PKBM, ke depan harus bisa lebih ditingkatkan lagi. Makin banyak jumlah PKBM, maka kesempatan warga kelas menengah ke bawah akan pendidikan semakin terlayani.
Idealnya, tutur Saipul Anwar, di Kutai Kartanegara setiap satu kecamatan memiliki 1 PKBM. Dengan jumlah PKBM merata di tiap-tiap Kecamatan, maka penggarapan terhadap warga yang membutuhkan pendidikan melalui jalur non formal akan semakin mantap. Pada gilirannya nanti, tingkat kesejahteraan masyarakat dapat tercapai seperti yang diharapkan sebgaimana program Gerbang Raja.
Mengingat pentingnya ijazah Kejar Paket A ,B dan C bagi warga belajar, Saipul mengimbau, hendaknya semua pihak bisa membantu agar ujian nasional kesetaraan bulan Juli mendatang bisa berjalan lancar. Terlebih-lebih bagi warga belajar di daerah kecamatan yang sulit dijangkau ,selain itu sebagian besar mereka adalah pekerja di sebuah perusahaan.Hal itu saya tegaskan hendaknya perusahaan dapat memberikan dispensasi kepada karyawan/warga yang mengikuti program paket saat melakukan ujian Nasional.
30 Orang Peserta Ikuti Pelatihan Komputer
TENGGARONG- – Sebanyak 30 Pemuda putus sekolah, mengikuti pelatihan Operator Microsoft Office dan Teknisi komputer selama tiga bulan , mulai debutnya Selasa (26 /10/2010).Secara resmi pembukaan Pelatihan dilakukan Kadisdik Kukar Drs.H.M.Hardi,MM. yang diwakili Kasubag.Paud,PNFI dan Kejuruan H.Bahransyah,Msi. Pelatihan itu dilaksanakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Putri Karang Melenu Laoa kulu, di Gedung PKBM Jln.Yos Sudarso RT 27 No 25 Kecamatan Loa Kulu .
Kepala PKBM Putri Karang Melenu, Drs Syaiful Anwar mengatakan, Pelatihan ini merupakan salah satu program Kursus Wirausaha Perkotaan (KWK) dilaksanakan BKBM Putri Karang Melenu bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. Untuk tahun 2010 ini materi yang dilatihkan adalah Operator Microsoft Office dan Teknisi komputer.
Pelatihan ini gratis bagi warga miskin (gakin), khususnya yang saat ini masih kesulitan mencari kerja dan belum pernah mengenal ilmu komputer atau keteknisian. “Alhamdulillah, kami PKBM dapat melaksanakan, insya Allah pelaksanaan pelatihan akan berlangsung selama tiga bulan,” kata Syaiful, pimpinan PKBM Putri karang melenu ketika ditemui di ruang kerja Selasa (9/11). KWK ini diikuti oleh 30 peserta, di antaranya 18 orang pria.
Peserta berasal dari Kecamatan Tenggarong 10 orang, Tenggarong Sebrang 7 orang, Loakulu 10 dan Kecamatan Loa Janan 5 orang,.. Seluruh peserta dibagi dalam dua kelompok belajar di waktu yang berbeda tiap harinya. Sementara itu Tim Instruktur berasal dari Lembaga Kursus PLC Tenggarong.
Dengan menggunakan 10 unit komputer yang seluruhnya berlayar LCD, materi diberikan dengan 90 persen praktek. Meliputi materi operator dan teknisi komputer ini akan melatih pesertanya untuk mahir dan terampil dalam waktu 72 Jam. “Tiap pertemuan 90 menit.
Untuk selanjutnya, pelatihan akan dilakukan rutin 3 kali per minggu, setiap Materi yang akan diajarkan antara lain: (1). pengenalan komputer dan sistem operasi, (2). aplikasi perkantoran fundamental, (3). pemanfaatan internet untuk menunjang aktifitas pendidikan, dan (4). blog sebagai sarana belajar mengajar.
Secara terpisah Kasubid PNFI,PAUD dan Kejuruan H.Bahransyah,SE mengatakan, kedepan program yang sudah berjalan KWK ini akan diupayakan melalui umber dana yang lain apakah APBD I maupun APBD II .
PKBM Tak Kalah dengan Pendidikan Formal
Tenggarong, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah suatu wadah berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat diarahkan pada pemberdayaan potensi untuk menggerakkan pembangunan di bidang sosial, ekonomi dan budaya.
Tujuan PKBM, memperluas kesempatan warga masyarakat, khususnya yang tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan bekerja mencari nafkah.
“Dalam upaya menyamakan persepsi dan menyelaraskan penyelenggaraan PKBM, dengan ide dasar PKBM sebagai pusat kegiatan pendidikan luar sekolah, PKBM yang tumbuh dan berkembang berdasarkan kepentingan dan kemampuan masyarakat, maka perlu dikembangkan alat ukur kelayakan penyelenggaraan PKBM” ucap Kepala PKBM PKM , Syaiful Anwar , ketika menyampaikan sambutan pada acara pembukaan pendidikan keaksaraan dan kesetaraan , Senin (29/8) kemarin.
Ia Menambahkan, banyak yang beranggapan PKBM ditujukan untuk masyarakat miskin yang putus sekolah. Namun dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 menetapkan jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
“Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat” imbuhnya.
Selain itu ia berharap, agar pemerintah memberikan perhatian lebih pada PKBM, karena peranan PKBM sangat dibutuhkan untuk menciptakan SDM yang tidak kalah mutunya dengan mutu sekolah formal, dengan memakai kurikulum yang sama







Komentar Terbaru